Kamis, 05 November 2015

HUBUNGAN PANCASILA DAN AGAMA



A. PENGERTIAN PANCASILA

       Pancasila adalah ideologi dasar bagi negara Indonesia. Nama ini terdiri dari dua kata dari Sanskerta: pañca berarti lima dan śīla berarti prinsip atau asas. Pancasila merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.
Pancasila adalah pedoman luhur yang wajib di taati dan dijalankan oleh setiap warga negara Indonesia untuk menuju kehidupan yang sejahtera tentram,adil,aman,sentosa.

Pancasila :                                                                              


  1. Ketuhanan yang maha esa.
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.
  3. Persatuan Indonesia.
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyaratan perwakilan.
  5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia



B. MAKNA SILA-SILA PANCASILA

       Arti dan Makna Sila Ketuhanan yang Maha Esa

  • Sila pertama mengandung arti pengakuan adanya kuasa prima (sebab pertama) yaitu Tuhan yang Maha Esa.
  • Menjamin penduduk untuk memeluk agama masing-masing dan beribadah menurut agamanya.
  • Menjamin berkembang dan tumbuh suburnya kehidupan beragama.
  • Bertoleransi dalam beragama, dalam hal ini toleransi ditekankan dalam beribadah menurut agamanya masing-masing.
  • Negara memberi fasilitator bagi tumbuh kembangnya agama dan iman warga negara dan mediator ketika terjadi konflik agama.


       Arti dan Makna Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab


  • Menempatkan manusia sesuai dengan hakikatnya sebagai makhluk Tuhan.
  • Menjunjung tinggi kemerdekaan sebagai hak segala bangsa.
  • Mewujudkan keadilan dan peradaban yang tidak lemah.


       Arti dan Makna Sila Persatuan Indonesia

  • Nasionalisme.
  • Cinta bangsa dan tanah air.
  • Menggalang persatuan dan kesatuan Indonesia.
  • Menghilangkan penonjolan kekuatan atau kekuasaan, keturunan dan perbedaan warna kulit.
  • Menumbuhkan rasa senasib dan sepenanggungan.


       Arti dan Makna Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan.


  • Hakikat sila ini adalah demokrasi.
  • Permusyawaratan, artinya mengusahakan putusan bersama secara bulat, baru sesudah itu diadakan tindakan bersama.
  • Dalam melaksanakan keputusan diperlukan kejujuran bersama.



       Arti dan Makna Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia


  • Kemakmuran yang merata bagi seluruh rakyat dalam arti dinamis dan meningkat.
  • Seluruh kekayaan alam dan sebagainya dipergunakan bagi kebahagiaan bersama menurut potensi masing-masing.
  • Melindungi yang lemah agar kelompok warga masyarakat dapat bekerja sesuai dengan bidangnya.


       Nilai-nilai Pancasila telah diyakini kebenarannya oleh bangsa Indonesia. Oleh karena itu, mengamalkan Pancasila merupakan suatu keharusan bagi bangsa Indonesia.
Adapun sikap positif dalam mengamalkan nilai-nilai pancasila:


  • Menghormati anggota keluarga.
  • Menghormati orang yang lebih tua.
  • Membiasakan hidup hemat.
  • Tidak membeda-bedakan teman.
  • Membiasakan musyawarah untuk mufakat.
  • Menjalankan ibadah sesuai dengan agama masing-masing.
  • Membantu orang lain yang kesusahan sesuai dengan kemampuan sendiri.



C. HUBUNGAN PANCASILA DENGAN  RUKUN  ISLAM

       Keterkaitan hubungan antara rukun Islam sebagai landasan agama Islam dan Pancasila sebagai landasan negara Indonesia.
Adapun hubungan itu yaitu pertama dari segi jumlah, rukun Islam berjumlah lima begitupun pancasila. Kedua, dari segi makna yaitu:



  1. Ketuhanan Yang Maha Esa, sila ini kerat kaitannya dengan rukun Islam yang pertama yaitu syahadat. Secara umum, sila ini menerangkan tentang ketuhanan begitu pun syahadat yang mempunyai makna pengakuan terhadap tuhan yaitu Allah SWT. Selain itu, kata Esa sendiri berarti tunggal, yang sebagaimana yang kita ketahui bahwa Isalm sebagai agama mayoritas penduduk negeri ini mempunyai tuhan tunggal Allah SWT.
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab sila kedua pancasila, berkaitan dengan rukun Islam kedua yaitu Shalat. Shalat dalam Islam selain sebagai ibadah wajib juga dilakukan untuk mendidik manusia menjadi manusia yang beradab. Sholat adalah sebuah media untuk mencegah perbuatan yang tidak terpuji, sebagai mana yang di firmankan oleh Allah bahwa Shalat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar.
  3. Persatuan Indonesia yang artinya seluruh elemen rakyat yang ada di Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku dan adat bersatu dan membentuk kesatuan dalam wadah bangsa Indonesia. Kaitannya dengan itu, persatuan terbentuk ketika jurang pemisah sudah tidak ada lagi di masyarakat. salah satu jurang pemisah yang paling nyata yaitu jurang antara yang miskin dan yang kaya. Untuk menyatukan jurang pemisah tersebut maka di agama Islam diwajibkan membayar zakat bagi orang-orang kaya yang akan disalurkan untuk kepentingan kaum miskin dan duafa. Zakat yang notabennya adalah rukun Islam ketiga sangat erat kaitannya dengan poin pancasila ketiga tersebut. Dengan zakat akan terbentuk rasa kasih sayang pada umat yang akan menghasilkan persatuan yang di cita-citakan.
  4. Kerakyatan yang di pimpin oleh hikmat, kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan sangat erat kaitannya dengan rukun islam keempat yaitu puasa¹. Dengan puasa akan terbentuk sifat bijaksana dan kepemimpinan. Ciri orang bijaksana, yaitu ia mampu merasakan dan mempumnyuai rasa kasih sayang sesama, semua itu adalah hikmah dari puasa. Selain itu, dalam menentukan waktu puasa, perlu dilakukan suatu musyawarah yang dikenal dengan siding istbat.
  5. Keadialan sosial bagi seluruh rakyat Indionesia. Pada rukun Islam yang ke lima, terdapat yang namanya haji². Haji adalah proses sosial yang terbesar di dunia ini, dimana setiap orang datang dari berbagai negara dengan berbagai bahasa dan kebiasaan bergabung menjadi satu dalam satu tempat dan waktu dalam kedudukan yang sama. Di dalalam haji, tidak memandang itu siapa dan siapa, semuanya sama, pakaiannya sama dan peraturan dan hukumnya sama. Semua itu adalah cerminan dari keadilan tuhan.

Senin, 02 November 2015

Penalaran Deduktif : Penarikan Kesimpulan Secara Langsung Dan Tidak Langsung, Silogisme Kategorial, Hipotesis, Alternatif, dan Entimen


       Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (observasi empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisiyang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar.


Metode deduktif

       Metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.

Contoh: Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status sosial.


Penalaran Deduktif

       Penalaran deduktif merupakan prosedur yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus. Metode ini diawali dari pebentukan teori, hipotesis, definisi operasional, instrumen dan operasionalisasi. Dengan kata lain, untuk memahami suatu gejala terlebih dahulu harus memiliki konsep dan teori tentang gejala tersebut dan selanjutnya dilakukan penelitian di lapangan. Dengan demikian konteks penalaran deduktif tersebut, konsep dan teori merupakan kata kunci untuk memahami suatu gejala. Penalaran yang bertolak dari sebuah konklusi atau kesimpulan yang didapat dari atau lebih pernyataan yang lebih umum.

       Dalam penalaran Deduktif terdapat premis. Yaitu proposisi tempat menarik kesimpulan. Penarikan kesimpulan secara deduktif dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung.


1.      Penarikan Kesimpulan Secara Langsung

       Penarikan kesimpulan secara langsung adalah penarikan kesimpulan yang ditarik dari satu premis. Premis yaitu prosisi tempat menarik kesimpulan.
Contoh penarikan kesimpulan secara langsung:

A.      Semua S adalah P. (premis)
Sebagian P adalah S. (kesimpulan)

Contoh: Semua manusia mempunyai rambut. (premis)
               Sebagian yang mempunyai rambut adalah manusia. (Kesimpulan)

B.      Semua S adalah P. (premis)
Tidak satu pun S adalah tak-P. (Kesimpulan)

Contoh: Semua pistol adalah senjata berbahaya. (premis)
               Tidak satu pun pistol adalah senjata tidak berbahaya. (Kesimpulan)

C.      Tidak satu pun S adalah P. (premis)
Semua S adalah tak-P. (Kesimpulan)

Contoh: Tidak seekor pun gajah adalah jerapah. (premis)
               Semua gajah adalah bukan jerapah. (Kesimpulan)

D.      Semua S adalah P. (premis)
Tidak satu-pun S adalah tak P. (Kesimpulan)
Tidak satu-pun tak P adalah S. (Kesimpulan)

Contoh: Semua kucing adalah berbulu. (premis)
               Tidak satu pun kucing adalah tak berbulu. (Kesimpulan)
          Tidak satupun yang tak berbulu adalah kucing. (Kesimpulan)


2.      Penarikan Kesimpulan Secara Tidak Langsung

       Penarikan kesimpulan tidak langsung adalah penarikan kesimpulan yang ditarik dari dua premis.
Premis pertama adalah premis yang bersifat umum ( mayor )  sedangkan premis kedua adalah premis yang bersifat khusus ( minor) 

Jenis penalaran deduktif yang menarik kesimpulan secara tidak langsung yaitu :


  • Silogisme Kategorial
  • Silogisme Hipotesis
  • Silogisme Alternatif
  • Silogisme Entimen



A. Silogisme Kategorial

       Silogisme kategorial adalah silogesmi yang terjadi dari tiga proposisi.

Premis Umum       : Premis Mayor 
Premis Khusus      : Premis Minor
Premis Simpulan : Premis Kesimpulan

Dalam simpulan terdapat subjek dan predikat. Subjek simpulan disebut term mayor, dan predikat simpulan disebut term minor.
Aturan umum dalam silogisme kategorial sebagai berikut :

  • Silogisme harus terdiri atas tiga term yaitu : term mayor, term minor, term penengah
  • Silogisme terdiri atas tiga proposisi yaitu premis mayor, premis minor, dan kesimpulan.
  • Dua premis yang negatif tidak dapat menghasilkan simpulan.
  • Bila salah satu premisnya negatif, simpulan pasti negatif.
  • Dari premis yang postif, akan dihasilkan simpulan yang positif
  • Dari dua premis yang khusus tidak dapat ditarik satu simpulan.
  • Bila premisnya khusus, simpulan akan bersifat khusus.
  • Dari premis mayor khusus dan premis mayor negatif tidak dapat ditarik satu simpulan.

Contoh silogisme Kategorial :

Semua pegawai di Bank Syariah adalah lulusan S1. ( premis mayor) 
Mentari adalah pegawai. ( premis minor)  
Mentari lulusan S1. ( kesimpulan) 

Tidak ada manusia yang sempurna. ( premis mayor)  
Amin adalah manusia. ( premis minor)  
Amin tidak sempurna. ( kesimpulan)  

Semua penjahit memiliki keterampilan menjahit. ( premis mayor) 
Winda tidak memiliki keterampilan menjahit. ( premis minor) 
Winda bukan penjahit. ( kesimpulan)  

B. Silogisme Hipotesis 

       Silogisme hipotesis adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor yang berproposisi konditional hipotesis.
Konditional hipotesis yaitu : bila premis minornya membenarkan anteseden, simpulannya membenarkan konsekuen. Bila minornya menolak anteseden, bila simpulannya juga menolak berarti konsekuen.

Contoh :

Jika tidak ada pertemuan, cinta tidak akan tumbuh. ( premis mayor) 
pertemuan tidak ada. ( premis minor)  
Jadi, cinta tidak akan tumbuh. ( kesimpulan)

Jika tidak ada matahari, tumbuhan tidak akan berfotosintesis. ( premis mayor) 
Tumbuhan tidak akan berfotosintesis. ( premis minor) 
Tumbuhan tidak dapat matahari. ( kesimpulan) 


C. Silogisme Alternatif

       Silogisme Alternatif adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternatif. Proposisi Alternatif yaitu bila premis minornya membenarkan salah satu alternatifnya, simpulannya akan menolak alternatif yang lain.

Contoh :

Distributor Squades berada di Kandangan atau Rantau. (premis mayor)
Distributor Squades berada di Kandangan. (premis minor)
Jadi, Distributor Squades tidak berada di Rantau. (kesimpulan)

D. Silogisme Entimen

       Silogisme ini jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tulisan maupun lisan. Yang dikemukakan hanya premis minor dan simpulan.

Contoh Entimen :

Dia menerima ciuman pertama kali karena dia telah berpacaran. (premis minor)
Anda telah menerima ciuman saat berpacaran, karena itu anda berciuman. (kesimpulan)








Sabtu, 31 Oktober 2015

CINTA DIATAS SELEMBAR KERTAS


       Di pagi hari nan sejuk yang baru saja dibasuh dengan embun dan suara lantunan ayat suci Al-Qur’an, ayat-ayat yang terdengar dari surau yang rutin mengadakan tadarus sesudah sampainya solat isyraq. Dipadukan dengan bunyi kicau-kicau burung yang melantunkan pujiannya kepada pemilik kerajaan alam semesta ini. Alangkah indahnya pagi ini, indah.. sangat indah seluruh panca indera dapat menyaksikan betapa sempurnanya alam semesta cipta’an Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Agung ini, tapi sayang ada sesosok pemuda, sesosok pemuda yang berbadan tinggi dan tegap, berkulit putih dan bersih, rambutnya hitam legam menandakan umurnya yang masih muda, dikaruniai paras yang tampan, budi pekerti dan akhlaq yang baik. Apa yang disayangkan? Yang disayangkan adalah hatinya.

       Hatinya yang patah, sayup akan luka, hatinya yang luka karna dikhianati, hati yang dulunya bagaikan burung yang berkicau dengan senang gembira disetiap paginya sekarang sudah pupus, bagaiakan burung yang telah patah sayap-sayapnya dan hilang semua harapannya untuk bisa terbang bertemu burung yang lainnya. Hati pemuda itu sangat bertolak belakang dengan indahnya pagi yang sudah dihadirkanNya dan diberikanNya, dengan cuma-cuma ini.

       Rasa sesak dada ini setelah saya mengetahui bahwa Nayla telah menikah dengan laki-laki lain. Tak tahu lagi harus berbuat apa, karna Nayla adalah tumpuan semangat saya, kekuatan hidup saya selama ini. Karena saya menggantungkan pengharapan yang besar kepadanya. Saya telah dibutakan cinta waktu itu. Sekarang saya menjadi lelaki yang teramat lemah, tidak punya cita-cita, tidak pula harapan yang cerah untuk melangkah kedepan. Karena saya tidak lagi punya pemikiran yang bersih seperti dahulu sejak saya masih menyimpan namanya dalam hati. Ternyata kini simpanan yang amat berharga itu telah dirampas orang lain, saya kecewa.. sangat kecewa. Dia bersanding dengan laki-laki yang tidak saya kenal bahkan Nayla pun tidak mengenalnya. Yang saya tahu dia adalah laki-laki kaya sama seperti keluarga Nayla, sedangkan saya dari keluarga orang yang tak berada, saya hanya seorang pengembala yang bekerja mengembalakan sapi-sapi milik orang tua Nayla.

       Satu minggu lamanya saya menahan sakit yang teramat sangat saya rasakan. Selera makan hilang, badan saya mengurus, pandangan saya kosong, tak ada bedanya seperti otak orang yang sudah dicuci.

       Dihari yang ketujuh itu paman saya datang  menjenguk saya. Ibu menceritakan semua kejadian itu kepadanya, lalu katanya

“sepertinya cinta Qais dan Laila akan terulang lagi abad ini, mungkin Bushiri adalah Majnun di abad modern ini”.

       Setelah itu beliau menghampiri saya dan menatap saya dengan tatapan yang penuh harapan. Dan berucap

      “seorang pemuda sepertimu sangat disayangkan kalau hanya menhabiskan waktu berlarut-larut dalam kesedihan, apa yang dapat kau ambil manfa’at dari kesedihan ini ? dan apa untungnya kamu memikirkan dia yang sudah menjadi kepunyaan orang lain. Percuma jika kamu tidak bangkit dan bangun dari mimpi-mimpi burukmu itu Bushiri. Ingat Bushiri kamu masih punya orang tua yang harus kau bahagiakan hati keduanya. Jangan kau jadikan cinta sebagai penghalangmu untuk meraih sesuatu yang seharusnya kamu raih. Jangan kamu buat cinta itu sebagai duri atau racun yang mematikan langkah cita-citamu. Cinta itu adalah anugerah, cinta itu adalah rahmat yang jika engkau sakit kerenanya itu dikarenakan rahmat tuhan kepadamu. Sebuah rahmat yang memberi tahu kepadamu agar kamu ingat kepadaNya. Agar kamu tahu manusia bukanlah tempat menggantungkan harapan, manusia bukanlah orang yang seharusnya kamu puja-puja setiap saat, manusia bukanlah orang yang sepantasnya kamu cintai. Gantungkanlah harapan hanya kepada Allah yang Maha menepati janji, ingat dan selalu pujilah Allah yang Maha Sempurna Maha Pengasih dan Penyayang, labuhkanlah cintamu kepada dzat yang benar-benar pantas untuk kau cintai. Cinta itu menguatkan Bushiri bukan melemahkan, lebih baik kamu mati saja kalau hidupmu tidak meberi mamfaat apa-apa utnuk orang lain. Kamu akan terus dihinakan, dipandang rendah Bushiri, kalau kamu tidak berusaha bangkit dan membuktikan kepada mereka bahwa kamu bisa sukses walau tanpa dia. Dia bukan penentu hidupmu bukan? Tapi Allah, Allah lah yang berhak menentukan jalan hidupmu, bukan dia, bukan pula cinta”.

       Cahaya harapan perlahan tumbuh di batinku, semua dikatakan oleh pamanku memang benar adanya. Saya harus bangkit, saya tidak boleh menjadi lelaki yang lemah karena mukmin yang kuat lebih baik daripada mukmin yang lemah.

“ikutlah denganku Bushiri !”

“kemana paman ?”

“ke Makkah, kita belajar ilmu agama disana setahun ataupun dua tahun kepada seorang syekh”.

“bagaimana menurut ibu ?” kataku kepada ibu yang berada duduk disebelah kiri tempatku terbaring.

“berangkatlah Bushiri! Ikutlah bersama pamanmu, kamu memang harus memperdalam ilmu agama, sangat disayangkan di usia muda sepertimu kalau hanya hidup bermalas-malasan dan membuang-buang waktu dengan hal-hal yang tidak berguna”.

       Akhirnya sebulan kemudian saya berangkat bersama paman ke kota Makkah. Disana kami belajar dengan seorang syekh yang terkenal luas ilmunya, Syekh Ja’far nama beliau. Disana saya tidak cuma diberi ilmu tapi saya dibimbing, hati saya di bimbing sedemikian halus dan lembut sampai akhirnya saya sadar dan mengenal apa arti kehidupan di dunia ini. Apa tujuan kita dilahirkan di dunia ini. Tugas apa yang harus kita lakukan di dunia ini. Apa jati diri kita sebenarnya semasa kita hidup ke dunia. Apakah kita cuma sekedar hidup dan berakhir atau kita hidup di dunia dan ada lagi kehidupan sesudahnya.

       Dua tahun lamanya kami bermukim di kota Makkah memperdalam ilmu agama serta mendapat bimbingan dari Syekh Ja’far, ketika rasa rindu dengan tanah kelahiran sudah serasa bendungan yang hampir runtuh, ingat akan tanah air tempat saya dilahirkan dan rindu yang sangat teramat kepada ibu yang selalu menjaga dan merawat saya dari kecil buaian hingga dewasa. Setelah sekian lama akhirnya saya memutuskan untuk pulang ke tanah air sementara paman saya memilih untuk tetap tinggal disana, masih haus akan ilmu.

       Sepulangnya dari Makkah saya tidak langsung bekerja, baru dua minggu kemudian saya mendapatkan kerja jualan bakso milik pak Haryo yang tinggal tidak jauh dari kediaman saya. “pulang mengaji dari Makkah bukannya mimpin majelis ta”lim malah jualan bakso”, sindir orang-orang, namun saya tidak menghiraukannya.

       Suatu ketika saya sedang menjajakan bakso seperti hari-hari biasa, tiba-tiba saya melihat jalan tempat biasa saya melintas entah kenapa disana penuh sesak dengan kendara’an-kendara’an mewah baik roda dua ataupun roda empat. Saya bingung dan penasaran apa gerangan yang terjadi di rumah mewah milik sang kiyai yang sudah tenar dan terkenal di kampung bahkan di kota ini. Mungkin beliau mengadakan acara besar-besaran sehingga yang datang adalah orang besar-besar pula. Begitu pikirku namun saya tetap dihantui rasa penasaran.

       Cukup lama saya memendam rasa penasaran itu, dan pada akhirnya saya mencoba menanyakan perihal itu kepada orang yang kebetulan sedang membeli bakso jualan saya. Orang itu mengatakan bahwa anak perempuan dari kiyai itu sedang mencari calon suami, lalu akhirnya diadakan lah sayembara guna mencari sosok laki-laki yang benar-benar bisa membimbing anaknya, Humairah namanya. Saya tertegun mendengar cerita singkat dari pelanggan saya. Lalu saya balik bertanya kepada dia

“kamu tidak ikut?” kataku pada si pembeli, dengan tangkas orang itu menjawab

“macam-macam saja kau ini, tentu saja saya tidak berani, saya tidak punya apa-apa tampang pas-pas an, harta bendapun tiada. Yang punya mobil mewah saja ditolak apalagi kita-kita ini, untuk makan sehari-hari saja belum tentu cukup, la.. mau dikasih makan apa anak orang nanti, ada-ada saja kau ini.”

       Saya hanya tersenyum mendengar penuturan dari orang itu betul juga kata dia gumamku dalam hati, tapi saya jadi teringat akan salah satu pesan dari syekh saya yang ada di Makkah entah mengapa beliau menyampaikan ini di waktu beberapa minggu sebelum saya pulang ke Indonesia. Pesan mengenai menjunjung sunah Nabi dalam hal menikah, beliau berkata: 

“Allah telah berpesan kepada kita di dalam kitab sucinya.  Dan menikahlah orang-orang bujang ( pria dan perempuan ) dari kalangan kamu, dan orang-orang yang sholeh dari hamba-hamba kamu, pria dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka. Sesungguhnya karunia Allah Maha luas (rahmat dan karuniaNya), lagi Maha Mengetahui. (An-Nur 32). Janganlah  kamu tak yakin dengan apa yang Allah janjikan. Masalah datangnya harta, selagi kita berusaha itu adalah Rahmat-Nya yang sudah ditakdirkan pada tiap-tiap hambaNya. Kalau masalah memberi nafkah makan & minum insya Allah pasti akan sanggup memberikannnya. Tempat tinggal bisa dicari dan diusahakan dikemudian hari. Kalau menikah bisa menghalangi seorang hamba Allah dari melakukan dosa dan sia-sia, maka segerakanlah. Menikah itu adalah sunah Nabi Muhammad, menikah menjaga diri dari dosa, membahagiakan hati, mengontrol emosi, menyebabkan mudah meraih kesuksesan, dan membanyakkan umat Nabi di akhirat kelak”. 

       Saya masih ingat betul muka Syekh Ja’far yang tersenyum manis ketika menyampaikan hal itu kepada saya. Membuat saya tersenyum pula dikala saya sudah jauh dengan beliau sekarang. Ketika saya hendak kembali melewati tempat itu, saya tercengang melihat banyak laki-laki yang pulang dengan muka masam mungkin karena menelan malu yang luar biasa atas ketidak berhasilannya/ ditolaknya mendapatkan wanita yang katanya luar biasa itu.

        Setelah saya pulang kerumah, saya menceritakan kepada ibu apa yang saya lihat waktu itu. Ibuku berkata sambil tersenyum manis : 

“cobalah kamu datang kesana nak ! siapa tahu dia memang ditakdirkan menjadi tulang rusukmu/ jodohmu”. 

Saya sedikit jengkel dengan ucapan ibu, entah kenapa beliau dengan entengnya berkata seperti itu. Akupun balas berkata 

“jangan berkhayal terlalu tinggi bu, cukup kesalahan di masa lalu yang mebuat anakmu ini jera, karena mencintai sesorang yang tidak sepadan dengan keadaan anakmu ini. Akhirnya anakmu ini menelan derita yang teramat menyakitkan itu”. 

Sambil saya berujar itu perih dulu yang saya pernah rasakan, serasa terasa kembali di dalam  hati yang baru sembuh dari luka ini. Saya kembali berkata 

“apa ibu mau, apa ibu senang kalau anak ibu akan menderita lagi ?. ibu mau merawat anak ibu, ibu senang melayani anak ibu yang tergeletak di atas tempat tidurnya berhari-berhari ? jangan bu .. jangan terulang kembali hal ini untuk yang keduanya kalinya, saya tidak ingin menyusahkan ibu lagi”

kataku pada ibu dengan segenap kerendahan hati. Ibu hanya tersenyum ketika saya dengan mantap mengatakan argumen itu kepadanya. Tetapi dengan lemah lembut ibu menjawab:

“Bushiri anakku, jika kamu mengejar perempuan karena kedudukannya yang tinggi tanpa di landasi ilmu agama yang kuat maka kamu hanya akan menciduk air dengan jari-jarimu yang terurai, apa yang akan kamu dapatkan melainkan kepayahan saja. Kamu tidak akan bahagia bersamanya sekalipun cintamu tulus kepadanya Bushiri, karena dia atau orang tuanya akan meminta sesuatu yang lebih kepadamu tanpa bisa bersyukur sedikitpun dengan sesuatau yang telah diberikan. Karna harta adalah segalanya buat mereka. Dan wajar kamu akan merasa sakit jika kamu mencintai mereka, karena cintamu tidak searah dengan cintanya. Tentu beda dengan Humairah anak kiyai itu. Selain keturunan dari orang baik-baik dirinya pun gemar dengan ilmu agama. Sehingga dengan modal ilmu itulah dia akan mencintai orang yang juga mencintainya dengan tulus, bukan cinta yang dibungkus dengan harta ataupun tahta. Inilah cinta yang akan menjanjikan kenyamanan dan kebahagiaan bagi pemiliknya. Nah sekarang apakah kamu berani datang kesana Bushiri ?”.

Saya terdiam sejenak 

“iya bu, saya akan mencoba”. 

Jawabku meski sebenarnya hati kecil ini penuh akan keragu-raguan.

       Akhirnya saya memberanikan diri datang ke rumah ajang pencarian jodoh itu. Saya pun dipersilahkan masuk dengan hormat layaknya tamu-tamu terhormat yang tiap kali datang ke rumah itu. Kemudian saya disuruh duduk menunggu di ruang tamu. Setelah cukup lama menunggu akhirnya giliran saya tiba. Yang katanya saya akan di test/ di uji untuk menilai diri saya apakah saya pantas dan masuk dalam kategori laki-laki yang di cari dan dinanti oleh Humaira. Ataukah saya akan pulang begitu saja seperti laki-laki yang sudah-sudah. 

       Saya duduk menatap langsung dengan Humaira, hati saya sangat gugup, gugup melihat kecantikannya seakan-akan yang duduk di sana itu adalah bidadari yang diutus Allah untuk mencari pendampingnya di surga kelak. Mukanya cantik wajahnya manis dan bersih, dari sana terlihat seakan-akan itu adalah bukti jawaban wajah yang selalu dibasuh dengan air wudhu dikala hendak menjawab panggilan Tuhannya . Laki-laki manapun yang melihatnya pasti akan terdiam seakan-akan nafas berhenti dengan sendirinya, seakan-akan angin pun juga ikut terdiam, seperti air yang tenang. Pandangan matanya tajam tapi menunjukan ketulusan yang diselimuti wibawa dengan dibalut alis yang bersisir bagaikan barisan semut yang saling bersilaturahmi, mata yang di dampingi alis sedemikian rupa menandakan tatapan yang tak pernah kosong dengan pandangan mengingat Tuhannya Tuhan sekalian alam. Dia mempunyai hidung yang manis seakan akan memberitahukan bahwa dia sering mencium kitab suciNya di kala dia mengisi waktu-waktu kosongnya, bibir yang kecil dan merah merona seperti memberitahukan bahwa dengan bibirnya lah dia melantunkan ayat-ayat kebenaran tentang Tuhannya. Masya Allah hanya itulah yang dapat saya gumam di dalam hati, saat itu juga saya terjaga dari rasa takjub lalu saya ingat dengan Allah dan meucap istighfar ya Allah ampunilah hambamu yang terlalu memandang perempuan yang belum saya ucapkan ijab qabul gumam saya tapi dari sana saya dapat menyaksikan bukti dari kesempurnaan mu ya Allah menyaksikan salah satu bukti ciptaan mu yang dapat menggetarkan jiwa ini.

       Khumaira berkata sekaligus memecah keheningan yang terjadi pada diri saya.

“bu Sri?”

“iya nona”

“sudah ada berapa laki-laki mbok yang datang melamar ?”

“sudah ada 99 nona”

Kaget bukan main saya ketika mendengar penuturan dari mbok yang ada berdiri disamping pintu masuk.

“jadi saudarakah yang akan menjadi penggenap dari bilangan itu ?”

Sayapun menjawab:

“saya belum tau bahkan saya belum mengerti apa yang seharusnya saya lakukan di ruangan ini dan kenapa 99 lelaki yang sudah melamar itu tidak satu atau dua atau bahkan tiga orang yang akan kamu jadikan suami ? saya dengar mereka adalah orang-orang terhormat dari keluarga orang-orang yang terpandang sama sepertimu”. 

Aduh kenapa saya berkata seperti ini, celetuk saya dalam hati, apa ini akibat saya terlalau gugup melihatnya. Setelah mendengar perkataan saya Humaira tersenyum manis lalu berkata :

“Seenaknya saja kamu berbicara, satu suami sudah cukup, lagian kan dalam syariat islam tidak diperbolehkan perempuan punya suami lebih dari satu, kamu mau tahu apa alasan saya menolak mereka ?”.

“lho kenapa nona menolak mereka ? mereka tampan punya harta yang melimpah, rumah mereka bak istana sang raja. Apa kurangnya mereka ? semuanya sudah mereka miliki. Karena mereka sadar diri untuk melamar seorang anak gadis semata wayang putri dari sang kiyai yang kaya raya dan mashur namanya tentu tidak sedikit harta yang akan dikeluarkan. Mereka juga harus kaya raya dan berpendidikan tinggi, pintar dan yang paling utama tentunya adalah kesiapan mereka untuk memberikan penghidupan yang layak untuk istrinya nanti".

“sepertinya kamu tidak tahu betul apa yang saya cari sekarang, apa yang saya harapkan dari pedamping hidup ku kelak, pendamping yang mengimamiku di sisa umurku di dunia ini dan di hidupku yang kekal nanti jika aku memang diperbolehkan memasuki syurgaNya”

       Selesai mengatakan hal tersebut saya lihat Humaira berjalan menuju sebuah lemari yang tak jauh dari tempatnya berada, seraya mengambil selembar kertas yang terdapat di dalamnya. Entah mengapa ketika saya melihat kertas sederhana yang kecil di tangan Humaira itu hati saya merasakan hal yang lain, seakan-akan kertas itu bukan kertas yang biasa, seakaan-akan kertas itu memiliki cerita yang sangat penting untuk saya di hidup saya yang akan datang nanti. Apakah ini ? apakah ini perasaan yang di kirimkankan Allah kepada saya yang datangnya begitu tiba-tiba dan tak disangka-sangka ataukah ini cuma sekedar perasaan yang tidak ada artinya, cuma buah dari kegugupan dan khayalan saya. Humaira berjalan menuju ke tempat saya duduk dan menunjukkan selembar kertas itu. Alangkah terkejut saya, Subhanallah ternyata isi kertas itu adalah surah Al-Fatihah salah satu surah di dalam Al-Qur’an, salah satu surah dari kalamNya yang Maha Agung, mungkin bagi orang yang tidak pernah mendalami sedalam-dalamnya apa itu Al-Fatihah, yang tidak pernah merasakan hidup menuntut ilmu syariat dan hakikat suka duka di pondok pesantren maka akan merasa itu adalah surah yang biasa atau surah yang sudah lazim banyak ditemukan di khalayak orang banyak. Tapi surah itu bukan surah biasa, surah Al-Fatihah adalah surah pembuka Kitab suciNya yang mana dengan surah itulah segala pintu-pintu kebaikan itu terbuka, segala hikmah-hikmah rahasiaNya pun terbuka, membuka pintu keluar bagi setiap permasalahan baik masalah di dunia ini ataupun di dunia akhirat kelak.

“Silahkan kamu jelaskan dan tafsirkan surah Al-Fatihah seluas dan sebanyak yang kamu tahu!”.

Bayangan saya tentang surah Al-Fatihah langsung dihilangkan dengan suara lembut dari Humaira. Saya tahu dan jelas mendengar apa yang ia minta, tapi saya bingung ingin memulainya darimana. Sebelum saya menjawab pertanyaan Humaira, saya mengucap bismillah dan bertawakkal kepada Allah karna hanya dengan bertawakkal kepadaNya lah sesuatu urusan itu akan dijamin Allah keberhasilannya. meminta pertolongann kepadanNya, karna tidak akan sampai suatu tujuan jika tidak dengan kehendak Allah subhanahu wa taala. Saya coba gerakkan lidah saya yang mulai kaku kata-kata lirih pun keluar dari mulut saya:

“Al-Fatihah itu adalah “pembuka” “membuka sesuatu untuk mencapai kejayaan atau kemenangan”. Sesuai namanya, surat ini merupakan pembukaan dari Kitabullah Alquran yang terdiri dari 30 Juz dan 114 Surat. Al-fatihah hanya terdiri dari 7 (tujuh) ayat yang kandungannya merupakan intisari seluruh Alquran. Karena itu dinamakan juga Ummul Quran (induk Alquran) atau Ummul Kitab (induk Al-Kitab). Surat Al-Fatihah (Pembukaan) yang diturunkan di Mekah adalah surat yang pertama-tama diturunkan dengan lengkap diantara surat-surat yang ada dalam Alquran dan termasuk golongan surat Makkiyyah. Tetapi masih banyak Ummat Islam yang tidak paham arti dan kandungan Surat Al-Fatihah yang pendek (riangkas) namun agung dan mulia ini. Padahal dengan memahami kandungannya berbarti juga memahami garis besar ajaran Alquran.
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai di Hari Pembalasan. Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (Al-Fatihah: 1-7)
Surah yang merupakan induk dari semua isi Alquran, setiap muslim pun diwajibkan membacanya pada tiap-tiap roka’at shalat. Karenanya dinamakan pula As Sab’ul matsaany (tujuh yang berulang-ulang) karena ayatnya tujuh dan dibaca berulang-ulang dalam setiap shalat, baik yang fardhu lima waktu maupun yang sunnah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyatakan tentang hal ini bdalam kalamNya
Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Alquran yang agung. (Al-hijr: 87)
Tentang hubungan Surat Al-Fatihah dengan shalat, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam Shollallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Tidak ada shalat bagi yang tidak membaca pembuka Al-Kitab (Surat Al-Fatihah) (HR. Bukhari dan Muslim).
Selanjutnya di dalam Sahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Barangsiapa mengerjakan shalat yang tidak membaca Ummul Qur’an di dalamnya maka shalatnya pincang -tiga kali- yaitu tidak sempurna.” Maka ditanyakan kepada Abu Hurairah, “Kalau kami sedang berada di belakang imam, bagaimana?” Beliau menjawab, “Bacalah untuk diri kalian sendiri, karena sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Allah ta’ala berfirman : ‘Aku membagi shalat (Al-Fatihah) antara Aku dengan hamba-Ku menjadi dua bagian. Dan hamba-Ku akan mendapatkan apa yang dia minta.’ Kalau hamba itu membaca, ‘Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin’, maka Allah ta’ala menjawab, ‘Hamba-Ku telah memuji-Ku’. Kalau dia membaca, ‘Ar Rahmanirrahim’ maka Allah ta’ala menjawab, ‘Hamba-Ku menyanjung-Ku’. Kalau ia membaca, ‘Maliki yaumid din’ maka Allah berfirman, ‘Hamba-Ku mengagungkan Aku’. Kemudian Allah mengatakan, ‘Hamba-Ku telah pasrah kepada-Ku’. Kalau ia membaca, ‘Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in’ maka Allah menjawab, ‘Inilah bagian untuk-Ku dan bagian untuk hamba-Ku. Dan hamba-Ku pasti akan mendapatkan permintaannya.’. dan kalau dia membaca, ‘Ihdinash shirathal mustaqim, shirathalladziina an’amta ‘alaihim ghairil maghdhubi ‘alaihim wa ladh dhaalliin” maka Allah berfirman, ‘Inilah hak hamba-Ku dan dia akan mendapatkan apa yang dimintanya.’.”
Surat Al-Fatihah juga dinamakan dengan “Asy Syifa” yang artinya adalah Penyembuh. Seorang sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam pernah mengobati orang yang sakit tersengat racun dengan Surat ini. Alhamdulillah dengan idzin Allah maka sembuhlah. Diriwayatkan dai Abu Said Al-Hudri r.a.: Sesungguhnya beberapa orang dari sahabat Nabi datang pada suatu desa orang Arab dan penduduk desa tersebut tidak menyambutnya, semua mereka sama, ketika itu kepala desa mereka tersengat binatang beracun, mereka bertanya: “Apakah kalian bisa mengobati?” Sahabat menjawab: “Karena kalian tidak menjamu kami, kami bisa mengobati kalian asal ada upahnya”. Maka mereka menjanjikan imbalan kambing. Kemudian sahabat tersebut membacakan Ummul Qur’an (Al-Fatihah), dan ia mengumpulkan ludahnya dan meludahi (luka yang tersengat). Maka pimpinan desa itu sembuh dan memberikan kambing. Para sahabat itu mengatakan: “Kami tidak mengambilnya sebelum bertanya pada Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam”. Maka kami bertanya pada Nabi dan beliau tertawa. Dan Nabi bersabda: “Kok engkau tahu surah Al-Fatihah bisa untuk penyembuhan, ambilah imbalannya dan berilah aku bagian”.
Ayat pertama disebut dengan basmallah, yaitu Bismillahirrahmaanirrahiim (Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang). Maksudnya: saya memulai membaca al-Fatihah ini dengan menyebut nama Allah yang bersifat Maha Pemurah dan Maha Penyayang. Setiap pekerjaan yang baik, hendaknya dimulai dengan menyebut nama Allah, seperti makan, minum, menyembelih hewan dan sebagainya. Allah ialah nama zat yang Maha Suci, yang berhak disembah dengan sebenar-benarnya, yang tidak membutuhkan makhluk-Nya, tapi makhluk yang membutuhkan-Nya. Ar Rahmaan (Maha Pemurah): salah satu nama Allah yang memberi pengertian bahwa Allah melimpahkan karunia-Nya kepada makhluk-Nya, sedang ar Rahiim (Maha Penyayang) memberi pengertian bahwa Allah senantiasa bersifat rahmah yang menyebabkan Dia selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada makhluk-Nya.
Alhamdu lillahi robbil ‘aalamin (segala puji bagi Allah Rabb sekalian alam). Memuji orang adalah karena perbuatannya yang baik yang dikerjakannya dengan kemauan sendiri. Maka memuji Allah berarti: menyanjung-Nya karena perbuatanNya yang baik. Lain halnya dengan syukur yang berarti: mengakui keutamaan seseorang terhadap nikmat yang diberikannya. Kita menghadapkan segala puji bagi Allah ialah karena Allah sumber dari segala kebaikan yang patut dipuji.
Rabb (Tuhan) berarti: Tuhan yang ditaati Yang Memiliki, Mendidik dan Memelihara. Lafal rabb tidak dapat dipakai selain untuk Allah, kecuali kalau ada sambungannya, seperti rabbul bait (tuan rumah). ‘Alamiin (semesta alam): semua yang diciptakan Tuhan yang terdiri dari berbagai jenis dan macam, seperti: alam manusia, alam hewan, alam tumbuh-tumbuhan, benda-benda mati dan sebagainya. Allah pencipta semua alam-alam itu.
“Hai umat manusia, sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian serta orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa. Dia lah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit menjadi atap, dan Dia lah yang menurunkan air hujan dari langit kemudian berkat air itu Allah menumbuhkan berbagai buah-buahan sebagai rezeki untuk kalian, maka janganlah kalian menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kalian mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 21-22)
‘Ar-Rahman Ar-Rahim’ (Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang) merupakan dua buah nama Allah yang menunjukkan salah satu sifat Allah yaitu rahmah (kasih sayang). Ar Rahman termasuk kategori nama Allah yang hanya boleh dipakai untuk menyebut Allah. Sedangkan nama Ar Rahim telah disebutkan di dalam al-Qur’an pemakaiannya boleh untuk menyebut selain-Nya sesuai keterangan Alquran tentang sifat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kalangan kalian, terasa berat olehnya apa yang menyulitkan kalian, dan dia sangat bersemangat untuk memberikan kebaikan bagi kalian, dan dia sangat lembut dan menyayangi orang-orang yang beriman.” (QS. At Taubah: 128)
Ibnu Katsir mengungkapkan tatkala menjelaskan tafsir basmalah di awal surat Al-Fatihah, “Kesimpulan yang dapat dipetik adalah sebagian nama Allah ta’ala ada yang bisa dipakai untuk menamai selain-Nya, dan ada yang hanya boleh dipakai untuk menamai diri-Nya -seperti nama Allah, Ar Rahman, Al Khaliq, Ar Raziq dan sebagainya- .”
‘Maliki yaumid din’ (Raja yang Menguasai Hari Pembalasan) menunjukkan kewajiban beriman pada tauhid mulkiyah. Allah subhanahu wa ta’ala adalah rabb segala sesuatu dan Penguasa atau Rajanya. Seluruh kerajaan langit dan bumi serta apa pun yang berada di antara keduanya adalah milik-Nya. Dia lah Raja yang menguasai dunia dan akhirat. Allah ‘azza wa jalla berfirman,
“Milik Allah kerajaan langit dan bumi serta segala sesuatu yang ada di dalamnya, dan Dia Maha menguasai segala sesuatu.” (Al Ma’idah: 120).
“Maha Suci Allah yang di tangan-Nya kerajaan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al Mulk: 1).
“Katakanlah; Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu, Dia yang melindungi dan tiada yang dapat terlindungi dari siksa-Nya, jika kalian benar-benar mengetahui? Maka mereka akan menjawab, ‘Allah’. Katakanlah; Lantas dari sisi manakah kalian tertipu.” (QS. Al Mu’minun: 88-89)
Beriman kepada Tauhidullah (keesaan Allah) terdapat dalam empat ayat Al-Fatihah, dimana dinyatakan dengan tegas bahwa segala puji dan ucapan syukur atas suatu nikmat itu bagi Allah, karena Allah adalah Pencipta dan sumber segala nikmat yang terdapat dalam alam ini. Diantara nikmat itu ialah : nikmat menciptakan, nikmat mendidik dan menumbuhkan, sebab kata Rabb dalam kalimat Rabbul-‘aalamiin tidak hanya berarti Pencipta Alam semesta, tetapi juga mengandung arti tarbiyah yaitu mendidik, mengatur, menata dan menumbuhkan. Hal ini menunjukkan bahwa segala nikmat yang dilihat oleh seseorang dalam dirinya sendiri dan dalam segala alam ini bersumber dari Allah, karena Dia-lah Yang Maha Berkuasa di alam ini. Pendidikan, penjagaan dan penumbuhan oleh Allah di alam ini haruslah diperhatikan dan dipikirkan oleh manusia sedalam-dalamnya, sehingga menjadi sumber berbagai macam ilmu pengetahuan yang dapat menambah keyakinan manusia kepada keagungan dan kemuliaan Allah, serta berguna bagi masyarakat.
Al-fatihah mengokohkan kepercayaan pada hari Akhirat, hari pembalasan di saat manusia mempertanggung-jawabkan semua perbuatannya. Yang dimaksud dengan Raja Yang Menguasai Hari Pembalasan ialah pada hari itu Allah-lah yang berkuasa, segala sesuatu tunduk kepada kebesaran-Nya sambil mengharap nikmat dan takut kepada siksaan-Nya. Hal ini mengandung arti janji untuk memberi pahala terhadap perbuatan yang baik dan ancaman terhadap perbuatan yang buruk.
Oleh karena keimanan (ketauhidan) itu merupakan masalah yang pokok, maka didalam surat Al-Fatihah tidak cukup dinyatakan dengan isyarat saja, tetapi ditegaskan dan dilengkapi oleh ayat 5, yaitu : Iyyaaka na’budu wa iyyaka nasta’iin (hanya Engkau-lah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan). Inilah tawhidul Ibadat yaitu penghambaan, pengabdian, dan ketundukan yang semata-mata ditujukan kepada Allah. Na’budu diambil dari kata abida-ya’budu ibadah yaitu kepatuhan dan ketundukkan yang ditimbulkan oleh ketundukan hati dan perasaan terhadap kebesaran Allah, sebagai Ilah yang disembah, karena berkeyakinan bahwa Allah mempunyai kekuasaan yang mutlak terhadapnya. Nasta’iin (minta pertolongan), terambil dari kata isti’aanah: mengharapkan bantuan untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan yang tidak sanggup dikerjakan dengan tenaga sendiri.
Surat yang agung ini juga mendidik Kita untuk berdoa kepada Allah. Berdoa wajib dimulai dengan menyanjung Allah dengan segala sifat kemuliaannya, mengagungkan Nama-nama-Nya kemudian menyatakan kesiapan untuk bertawhid dalam ibadah dan mengakui Allah sebagai tempat meminta. Sebaik-baik doa adalah memohon petunjuk bimbingan Allah kepada jalan yang lurus yaitu jalan kebahagiaan dan bagaimana seharusnya menempuh jalan itu untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Maksud “Hidayah” disini ialah hidayah yang menjadi sebab dapatnya keselamatan, kebahagiaan dunia dan akhirat, baik yang mengenai kepercayaan maupun akhlak, hukum-hukum dan pelajaran lain dari ilmu Allah yang terdapat di dalam Alquran. Allah berfirman,
Sesungguhnya Alquran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar. (Al Israa: 17)
Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Alquran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Alquran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Alquran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (As-syuraa:52)
Kalimat, “Ihdinash shirathal musataqiim” (Tunjukilah Kami ke jalan yang lurus) menjadi permintaan utama setiap muslim kepada Rabbnya. Permintaan yang tidak egois karena bukan untuk diri sendiri tetapi untuk jamatul muslimiin yaitu Ummat Islam secara keseluruhan. Memohon yang terbaik dalam kehidupan adalah memohon ni’mat hidayah yang nilainya jauh melebihi kebutuhan dan keinginan lainnya di muka Bumi.. Tidak ada yang lebih nutama dari petunjuk hidup, sebagaimana yang dinyatakan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam kepada sahabat Ali bin Abi Tholib, “Dan seandainya Allah memberi hidayah kepada seseorang dengan sebab engkau, maka itu lebih baik bagimmu daripada Dunia dan segala isinya” (HR. Muslim)
Alquran menjelaskan yang dimaksud Shirotol Mustaqim dengan ayat berikutnya yaitu “Shirathalladzinaa an’aamta alayhim” (yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka). Yang dimaksud dengan orang yang diberi nikmat dalam ayat ini, ialah para Nabi, para shiddieqiin (orang-orang yang sungguh-sungguh beriman), syuhadaa’ (orang-orang yang mati syahid), shaalihiin (orang-orang yang saleh) sebagaimana disebutkan di dalam Alquran
Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (An Nisaa:69)
Kemudian ditegaskan pula bahwa jalan tersebut “groiril maghduubi alayhim waladh-dhooliiin”. (Bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat). Maksudnya ialah bukan golongan mereka yang tidak memperoleh cahaya petunjuk dan berjalan dalam kebodohan terhadap kebenaran Allah, Rasul, dan ajaran Islam. Siapa saja mereka yang sesat dan rang-orang yang dimurkai Allah disebutkan oleh Alquran secara jelas. Di dalam tafsir Ibnu Abbas disebutkan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Al yahuudu maghduubun ‘alayhim wan nashoro dhooluun” (Orang-orang yahudi dimurkai Allah kelakuannya sedangkan orang-orang Nasrani tersesat)
Yahudi dengan perilakunya adalah contoh mereka yang dilaknati dan dimurkai Allah sepanjang sejarah manusia.. disebabkan kejahatan mereka terhadap dakwah sejak zaman Nabi Musa Alaihis Salaam hingga zaman Kita sekarang ini… Sedangkan kaum Nasrani sering membuat-buat kedustaan terhadap Allah, akibatnya keimanan mereka kepada Allah kacau balau dan campur aduk dengan kebatilan… Alquran berulangkali menceritakan kisah para Nabi dan kisah orang-orang dahulu lainnya yang menentang Allah. Mereka ada yang sesat dan ada pula yang dimurkai Allah… Kisah-kisah itu dimaksudkan sebagai pelajaran yang penting bagi Kaum Muslimin dan menjadi pedoman mereka sepanjang hayat".

Saya pun melanjutkan kembali. 

"Karena menjadi induk Alquran maka kandungan Surat Al-Fatihah sangat luas bagaikan samudera yang tidak bertepi. Apa yang saya ringkas ini hanyalah setetes saja dari keluasan ilmu Allah di dalam Surat yang agung ini. Sebenarnya nona, jika saya meuraikan semuanya maka tak akan habisnya lah tak akan ada ujungnya. Ilmu Allah sangatlah luas tidak akan cukup umur kita untuk meuraikannya".

       Humaira tersenyum manis, tersenyum manis yang mana senyuman itu tidak pernah saya lihat sebelumnya. Senyuman yang seakan-akan membawa suatu maksud tertentu. Tiba-tiba dia berkata:

 “Bushiri nama kamu? Wahai Bushiri engkaulah pilihan hatiku yang sudah aku tunggu-tunggu selama ini.”

Suara Humaira yang satu ini sangat menggetarkan jiwa dan raga saya, mungkin suara –suaranya yang sebelumnya dapat membuat sendi ini terasa lemah tak berdaya, tapi suara yang iya ucapkan kali ini melebihinya, suara yang sekarang bahkan dapat membuat saya merasa diambang hidup. Apakah ini benar ? apakah ini bukan lamunan atau khayalan saya saja. Lama saya terdiam hening sambil menatap dalam ke wajah Humaira.

       Saya tidak tahu persis berapa lama saya ditelan kebisuan dengan menatap matanya. Mungkin itu sangat lama atau cuma sebentar tapi yang saya tahu betul kebisuan saya di hentikan lagi dengan ucapan Humaira.

“pulanglah wahai pujangga hatiku, pulanglah. Dan bersiap-siaplah kamu menikahi diriku dan membaca ijab qabul untukku dan bimbinglah diriku yang masih awam akan ilmu agama, ilmu Allah yang Maha Mengetahui”.

“ i..iya nona”.. 

      suara yang keluar dari mulut saya sekan-akan beku, beberapa detik kemudian baru otak saya memberi sinyal bahwa sudah waktunya saya beranjak dari rumah Humaira. Ketika saya memberi salam kepada Humaira spontan dia memanggil saya.

“Bushiri bawalah selembar kertas ini, bawalah dan tunjukkan kepada orang tuamu, agar selembar kertas ini menjadi saksi kepada ibumu akan cintaku yang akan mulai tumbuh dan bersemayam selamanya di dalam hati ini”

       Selanjutnya saya cuma bisa mengambil selembar kertas itu dari tangan Humaira tanpa bisa mengatakan apa-apa lagi. Gemetar tangan saya sangat gemetar, ketika saya mulai melewati pintu pagar halaman rumah Humaira ternyata saya dikejutkan kembali dengan suaranya.

“Bushiri”. 

Saya coba untuk menolehkan leher yang berat ini, kaget saya ternyata dia mengikuti dan memulangkan saya hingga pintu pagar rumahnya. Sayapun menjawab:

“iya nona”

“Bushiri, saya tunggu kamu, saya tunggu minggu depan di rumah ini dalam acara aqad nikah kita berdua”.

       Senyum manis, kali ini lagi-lagi adalah senyum manis yang iya berikan kepada saya. Senyum yang seakan-akan telah bisa mehapuskan semua sakit dan luka yang ada dihati saya dahulu. Saya tidak dapat berkata ataupun menjawab apa-apa lagi, sambil membalas senyumnya sayapun beranjak dari pandangannya. Saya pulang dengan dibekali senyuman, senyuman yang rasanya sangat hangat dan nyaman di dalam hati saya. Oh tidak saya tidak Cuma dibekali senyuman, tapi saya juga dibekali dengan selembar kertas. Sambil tersenyum sayapun menyusuri jalan setapak demi setapak.

       Sore nan pudar pun menemani perjalanan Bushiri. Sore yang berhiaskan tatanan emas dilangit yang biasanya biru seakan menjadi saksi. Menyaksikan seorang pemuda yang pulang dengan hati yang gembira dan berbahagia ditemani selembar kertas yang isinya adalah Al-Fatihah. Selembar kertas yang telah tumbuh disana cinta seorang pemuda tampan yang soleh dan cinta seorang gadis cantik yang solehah. Selembar kertas yang telah merubah hidup mereka. Selembar kertas yang akan membahagiakan hati ibu dan ayah-ayah mereka. Selembar kertas yang menjadi semangat hidup mereka menyongsong ridho Ilahi, ridho tuhannya hingga mereka meninggal dunia kelak dengan khusnul khotimah.





TAMAT