Kamis, 05 November 2015

HUBUNGAN PANCASILA DAN AGAMA



A. PENGERTIAN PANCASILA

       Pancasila adalah ideologi dasar bagi negara Indonesia. Nama ini terdiri dari dua kata dari Sanskerta: pañca berarti lima dan śīla berarti prinsip atau asas. Pancasila merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.
Pancasila adalah pedoman luhur yang wajib di taati dan dijalankan oleh setiap warga negara Indonesia untuk menuju kehidupan yang sejahtera tentram,adil,aman,sentosa.

Pancasila :                                                                              


  1. Ketuhanan yang maha esa.
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.
  3. Persatuan Indonesia.
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyaratan perwakilan.
  5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia



B. MAKNA SILA-SILA PANCASILA

       Arti dan Makna Sila Ketuhanan yang Maha Esa

  • Sila pertama mengandung arti pengakuan adanya kuasa prima (sebab pertama) yaitu Tuhan yang Maha Esa.
  • Menjamin penduduk untuk memeluk agama masing-masing dan beribadah menurut agamanya.
  • Menjamin berkembang dan tumbuh suburnya kehidupan beragama.
  • Bertoleransi dalam beragama, dalam hal ini toleransi ditekankan dalam beribadah menurut agamanya masing-masing.
  • Negara memberi fasilitator bagi tumbuh kembangnya agama dan iman warga negara dan mediator ketika terjadi konflik agama.


       Arti dan Makna Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab


  • Menempatkan manusia sesuai dengan hakikatnya sebagai makhluk Tuhan.
  • Menjunjung tinggi kemerdekaan sebagai hak segala bangsa.
  • Mewujudkan keadilan dan peradaban yang tidak lemah.


       Arti dan Makna Sila Persatuan Indonesia

  • Nasionalisme.
  • Cinta bangsa dan tanah air.
  • Menggalang persatuan dan kesatuan Indonesia.
  • Menghilangkan penonjolan kekuatan atau kekuasaan, keturunan dan perbedaan warna kulit.
  • Menumbuhkan rasa senasib dan sepenanggungan.


       Arti dan Makna Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan.


  • Hakikat sila ini adalah demokrasi.
  • Permusyawaratan, artinya mengusahakan putusan bersama secara bulat, baru sesudah itu diadakan tindakan bersama.
  • Dalam melaksanakan keputusan diperlukan kejujuran bersama.



       Arti dan Makna Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia


  • Kemakmuran yang merata bagi seluruh rakyat dalam arti dinamis dan meningkat.
  • Seluruh kekayaan alam dan sebagainya dipergunakan bagi kebahagiaan bersama menurut potensi masing-masing.
  • Melindungi yang lemah agar kelompok warga masyarakat dapat bekerja sesuai dengan bidangnya.


       Nilai-nilai Pancasila telah diyakini kebenarannya oleh bangsa Indonesia. Oleh karena itu, mengamalkan Pancasila merupakan suatu keharusan bagi bangsa Indonesia.
Adapun sikap positif dalam mengamalkan nilai-nilai pancasila:


  • Menghormati anggota keluarga.
  • Menghormati orang yang lebih tua.
  • Membiasakan hidup hemat.
  • Tidak membeda-bedakan teman.
  • Membiasakan musyawarah untuk mufakat.
  • Menjalankan ibadah sesuai dengan agama masing-masing.
  • Membantu orang lain yang kesusahan sesuai dengan kemampuan sendiri.



C. HUBUNGAN PANCASILA DENGAN  RUKUN  ISLAM

       Keterkaitan hubungan antara rukun Islam sebagai landasan agama Islam dan Pancasila sebagai landasan negara Indonesia.
Adapun hubungan itu yaitu pertama dari segi jumlah, rukun Islam berjumlah lima begitupun pancasila. Kedua, dari segi makna yaitu:



  1. Ketuhanan Yang Maha Esa, sila ini kerat kaitannya dengan rukun Islam yang pertama yaitu syahadat. Secara umum, sila ini menerangkan tentang ketuhanan begitu pun syahadat yang mempunyai makna pengakuan terhadap tuhan yaitu Allah SWT. Selain itu, kata Esa sendiri berarti tunggal, yang sebagaimana yang kita ketahui bahwa Isalm sebagai agama mayoritas penduduk negeri ini mempunyai tuhan tunggal Allah SWT.
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab sila kedua pancasila, berkaitan dengan rukun Islam kedua yaitu Shalat. Shalat dalam Islam selain sebagai ibadah wajib juga dilakukan untuk mendidik manusia menjadi manusia yang beradab. Sholat adalah sebuah media untuk mencegah perbuatan yang tidak terpuji, sebagai mana yang di firmankan oleh Allah bahwa Shalat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar.
  3. Persatuan Indonesia yang artinya seluruh elemen rakyat yang ada di Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku dan adat bersatu dan membentuk kesatuan dalam wadah bangsa Indonesia. Kaitannya dengan itu, persatuan terbentuk ketika jurang pemisah sudah tidak ada lagi di masyarakat. salah satu jurang pemisah yang paling nyata yaitu jurang antara yang miskin dan yang kaya. Untuk menyatukan jurang pemisah tersebut maka di agama Islam diwajibkan membayar zakat bagi orang-orang kaya yang akan disalurkan untuk kepentingan kaum miskin dan duafa. Zakat yang notabennya adalah rukun Islam ketiga sangat erat kaitannya dengan poin pancasila ketiga tersebut. Dengan zakat akan terbentuk rasa kasih sayang pada umat yang akan menghasilkan persatuan yang di cita-citakan.
  4. Kerakyatan yang di pimpin oleh hikmat, kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan sangat erat kaitannya dengan rukun islam keempat yaitu puasa¹. Dengan puasa akan terbentuk sifat bijaksana dan kepemimpinan. Ciri orang bijaksana, yaitu ia mampu merasakan dan mempumnyuai rasa kasih sayang sesama, semua itu adalah hikmah dari puasa. Selain itu, dalam menentukan waktu puasa, perlu dilakukan suatu musyawarah yang dikenal dengan siding istbat.
  5. Keadialan sosial bagi seluruh rakyat Indionesia. Pada rukun Islam yang ke lima, terdapat yang namanya haji². Haji adalah proses sosial yang terbesar di dunia ini, dimana setiap orang datang dari berbagai negara dengan berbagai bahasa dan kebiasaan bergabung menjadi satu dalam satu tempat dan waktu dalam kedudukan yang sama. Di dalalam haji, tidak memandang itu siapa dan siapa, semuanya sama, pakaiannya sama dan peraturan dan hukumnya sama. Semua itu adalah cerminan dari keadilan tuhan.

Senin, 02 November 2015

Penalaran Deduktif : Penarikan Kesimpulan Secara Langsung Dan Tidak Langsung, Silogisme Kategorial, Hipotesis, Alternatif, dan Entimen


       Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (observasi empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisiyang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar.


Metode deduktif

       Metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.

Contoh: Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status sosial.


Penalaran Deduktif

       Penalaran deduktif merupakan prosedur yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus. Metode ini diawali dari pebentukan teori, hipotesis, definisi operasional, instrumen dan operasionalisasi. Dengan kata lain, untuk memahami suatu gejala terlebih dahulu harus memiliki konsep dan teori tentang gejala tersebut dan selanjutnya dilakukan penelitian di lapangan. Dengan demikian konteks penalaran deduktif tersebut, konsep dan teori merupakan kata kunci untuk memahami suatu gejala. Penalaran yang bertolak dari sebuah konklusi atau kesimpulan yang didapat dari atau lebih pernyataan yang lebih umum.

       Dalam penalaran Deduktif terdapat premis. Yaitu proposisi tempat menarik kesimpulan. Penarikan kesimpulan secara deduktif dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung.


1.      Penarikan Kesimpulan Secara Langsung

       Penarikan kesimpulan secara langsung adalah penarikan kesimpulan yang ditarik dari satu premis. Premis yaitu prosisi tempat menarik kesimpulan.
Contoh penarikan kesimpulan secara langsung:

A.      Semua S adalah P. (premis)
Sebagian P adalah S. (kesimpulan)

Contoh: Semua manusia mempunyai rambut. (premis)
               Sebagian yang mempunyai rambut adalah manusia. (Kesimpulan)

B.      Semua S adalah P. (premis)
Tidak satu pun S adalah tak-P. (Kesimpulan)

Contoh: Semua pistol adalah senjata berbahaya. (premis)
               Tidak satu pun pistol adalah senjata tidak berbahaya. (Kesimpulan)

C.      Tidak satu pun S adalah P. (premis)
Semua S adalah tak-P. (Kesimpulan)

Contoh: Tidak seekor pun gajah adalah jerapah. (premis)
               Semua gajah adalah bukan jerapah. (Kesimpulan)

D.      Semua S adalah P. (premis)
Tidak satu-pun S adalah tak P. (Kesimpulan)
Tidak satu-pun tak P adalah S. (Kesimpulan)

Contoh: Semua kucing adalah berbulu. (premis)
               Tidak satu pun kucing adalah tak berbulu. (Kesimpulan)
          Tidak satupun yang tak berbulu adalah kucing. (Kesimpulan)


2.      Penarikan Kesimpulan Secara Tidak Langsung

       Penarikan kesimpulan tidak langsung adalah penarikan kesimpulan yang ditarik dari dua premis.
Premis pertama adalah premis yang bersifat umum ( mayor )  sedangkan premis kedua adalah premis yang bersifat khusus ( minor) 

Jenis penalaran deduktif yang menarik kesimpulan secara tidak langsung yaitu :


  • Silogisme Kategorial
  • Silogisme Hipotesis
  • Silogisme Alternatif
  • Silogisme Entimen



A. Silogisme Kategorial

       Silogisme kategorial adalah silogesmi yang terjadi dari tiga proposisi.

Premis Umum       : Premis Mayor 
Premis Khusus      : Premis Minor
Premis Simpulan : Premis Kesimpulan

Dalam simpulan terdapat subjek dan predikat. Subjek simpulan disebut term mayor, dan predikat simpulan disebut term minor.
Aturan umum dalam silogisme kategorial sebagai berikut :

  • Silogisme harus terdiri atas tiga term yaitu : term mayor, term minor, term penengah
  • Silogisme terdiri atas tiga proposisi yaitu premis mayor, premis minor, dan kesimpulan.
  • Dua premis yang negatif tidak dapat menghasilkan simpulan.
  • Bila salah satu premisnya negatif, simpulan pasti negatif.
  • Dari premis yang postif, akan dihasilkan simpulan yang positif
  • Dari dua premis yang khusus tidak dapat ditarik satu simpulan.
  • Bila premisnya khusus, simpulan akan bersifat khusus.
  • Dari premis mayor khusus dan premis mayor negatif tidak dapat ditarik satu simpulan.

Contoh silogisme Kategorial :

Semua pegawai di Bank Syariah adalah lulusan S1. ( premis mayor) 
Mentari adalah pegawai. ( premis minor)  
Mentari lulusan S1. ( kesimpulan) 

Tidak ada manusia yang sempurna. ( premis mayor)  
Amin adalah manusia. ( premis minor)  
Amin tidak sempurna. ( kesimpulan)  

Semua penjahit memiliki keterampilan menjahit. ( premis mayor) 
Winda tidak memiliki keterampilan menjahit. ( premis minor) 
Winda bukan penjahit. ( kesimpulan)  

B. Silogisme Hipotesis 

       Silogisme hipotesis adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor yang berproposisi konditional hipotesis.
Konditional hipotesis yaitu : bila premis minornya membenarkan anteseden, simpulannya membenarkan konsekuen. Bila minornya menolak anteseden, bila simpulannya juga menolak berarti konsekuen.

Contoh :

Jika tidak ada pertemuan, cinta tidak akan tumbuh. ( premis mayor) 
pertemuan tidak ada. ( premis minor)  
Jadi, cinta tidak akan tumbuh. ( kesimpulan)

Jika tidak ada matahari, tumbuhan tidak akan berfotosintesis. ( premis mayor) 
Tumbuhan tidak akan berfotosintesis. ( premis minor) 
Tumbuhan tidak dapat matahari. ( kesimpulan) 


C. Silogisme Alternatif

       Silogisme Alternatif adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternatif. Proposisi Alternatif yaitu bila premis minornya membenarkan salah satu alternatifnya, simpulannya akan menolak alternatif yang lain.

Contoh :

Distributor Squades berada di Kandangan atau Rantau. (premis mayor)
Distributor Squades berada di Kandangan. (premis minor)
Jadi, Distributor Squades tidak berada di Rantau. (kesimpulan)

D. Silogisme Entimen

       Silogisme ini jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tulisan maupun lisan. Yang dikemukakan hanya premis minor dan simpulan.

Contoh Entimen :

Dia menerima ciuman pertama kali karena dia telah berpacaran. (premis minor)
Anda telah menerima ciuman saat berpacaran, karena itu anda berciuman. (kesimpulan)