KETERAMPILAN BERBAHASA INDONESIA
“MENULIS”
Disajikan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Bahasa
Indonesia
MI/SD Kelas Rendah
MI/SD Kelas Rendah
Dosen Pengampu: Tutus Rani Arifa, M.Pd
Disusun
oleh:
Muhammad Saleh:
(17520031)
Sam’ani: (17520019)
Muhammad Amin:
(18520121)
Maria Ulfah: (18520122)
Semester
4
PENDIDIKAN
GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS
STUDI ISLAM
UNIVERSITAS
ISLAM KALIMANTAN MUHAMMAD ARSYAD
AL-BANJARI
BANJARMASIN
2018/2019
بـــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــسم
الله الرحمن الرحيــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــم
KATA PENGANTAR
Dengan
menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kami panjatkan puji
syukur atas kehadirat-Nya, sholawat serta salam kami haturkan kepada nabi besar
Nabi Muhammad saw. Dengan rahmat Allah dan berkat Rasulullah kami dapat
menyelesaikan makalah yang kami beri judul “Keterampilan
Berbahasa Indonesia (Menulis)”.
Penulisan
ini kami susun dengan bantuan pihak lainnya, kami menyampaikan terima kasih
kepada Ibu dosen Tutus Rani Arifa, M.Pd, dan juga pihak yang berkontribusi dalam
pembuatan makalah ini.
Ibarat
“tak ada gading yang tak retak” terlepas dari semua itu, penulis
menyadari bahwa masih ada kekurangan dari segi isi maupun tata bahasa. Karena
itu kami menerima segala saran dan kritik yang bersifat membangun dari para
pembaca agar dapat memperbaiki makalah kami.
Akhir
kata kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan banyak manfaat kepada kami
maupun terhadap para pembaca. Amin ya
rabbal alamin.
Banjarmasin,
1 April 2019
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.............................................................................. ii
DAFTAR ISI............................................................................................. iii
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang................................................................................ 1
B.
Rumusan
Masalah........................................................................... 3
C.
Tujuan.............................................................................................. 3
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Menulis.......................................................................... 4
B.
Hakikat Menulis….......................................................................... 5
C.
Tujuan Menulis…………………………………………………… 5
D.
Jenis-Jenis Menulis ………………………………………………... 6
E.
Hambatan Menulis ………………………………………………… 10
F.
Solusi Menulis …………………………………………………….. 13
G.
Metode Menulis …………………………………………………… 15
BAB III
PENUTUP
A.
Simpulan......................................................................................... 18
B.
Saran............................................................................................... 18
DAFTAR PUSTAKA
BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Menulis merupakan salah satu aspek keterampilan
berbahasa yang harus dikuasai siswa, selain ketiga keterampilan lain yaitu
membaca, menyimak dan berbicara. Pembelajaran menulis di SD diberikan melalui
mata pelajaran Bahasa Indonesia. Menurut pendapat Pelly, meskipun pembelajaran
menulis telah disadari merupakan bagian penting dalam pembelajaran Bahasa
Indonesia di SD, namun pada kenyataannya pembelajaran menulis kurang mendapat
perhatian dari guru maupun siswa. Pembelajaran menulis atau mengarang kurang
ditangani secara sungguh–sungguh, sehingga pembelajaran menulis yang dimiliki
siswa kurang memadai.[1]
Menulis sangat penting untuk dikuasai peserta
didik. Menulis akan banyak memberikan manfaat dalam kehidupan yang serba maju
sekarang ini. Menulis merupakan suatu kegiatan yang penting untuk dapat
menuangkan isi pikiran, gagasan atau pendapat, ide maupun perasaan seseorang.
Menurut Sabarti Akhadiah, kemampuan menulis didapatkan bukan melalui warisan,
tetapi didapatkan melalui proses belajar mengajar.[2]
Menulis dapat dimiliki oleh semua siswa jika
mereka mendapat bimbingan dan latihan menulis secara intensif. Selain itu,
peran guru juga sangat penting dalam melatih dan membimbing siswa menulis
karangan dengan baik. Perbaikan dan umpan balik dari guru juga sangat
diperlukan agar setiap kesalahan maupun kesulitan yang dihadapi siswa dapat
diatasi, sehingga menulis karangan siswa dapat meningkat. Seorang guru
seharusnya mampu merangsang daya pikir dan kreatifitas peserta didik dalam
mengekspresikan perasaan dan pendapatnya baik secara lisan maupun tertulis.
Dari paparan diatas, sudah terlihat jelas bahwa
diharapkan kita sebagai seorang guru wajib memiliki keterampilan menulis, agar kelak dapat memberikan
pengetahuan tentang kemampuan menulis yang baik kepada peserta didik. Dengan
demikian, makalah ini disusun dengan tujuan agar kita lebih memahami materi
mengenai menulis dan dapat mengaplikasikannya didalam kehidupan nyata.
B.
Rumusan Masalah
Sesuai dengan judul makalah yang telah diberikan ibu dosen, penulis merumuskan rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan menulis ?
2. Bagaimana hakikat menulis ?
3. Apa tujuan dari menulis ?
4. Apa saja jenis menulis ?
5. Apa saja hambatan dalam menulis ?
6. Bagaimana solusi dalam menulis ?
7. Apa saja metode menulis ?
C.
Tujuan Penulisan Makalah
Sejalan dengan rumusan masalah diatas, makalah ini disusun dengan tujuan
untuk:
1. Mengetahui apa yang dimaksud
dengan menulis
2. Mengetahui bagaimana hakikat menulis
3. Mengetahui tujuan dari menulis
4. Mengetahui apa saja jenis menulis
5. Mengetahui apa saja hambatan dalam menulis
6. Mengetahui bagaimana solusi dalam menulis
7. Mengetahui apa saja metode menulis
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Menulis
Akhadiah
memandang menulis adalah sebuah proses, yaitu proses penuangan gagasan atau ide
ke dalam bahasa tulis yang dalam praktiknya proses menulis diwujudkan dalam
beberapa tahapan yang merupakan satu sistem yang utuh. Lebih lanjut Gie
menyatakan bahwa menulis memiliki kesamaan makna dengan mengarang, yaitu
kegiatan seseorang mengungkapkan gagasan dan menyampaikannya melalui bahasa
tulis kepada pembaca untuk dipahami. Dari definisi ini dapat dikemukakan bahwa
menulis adalah sebuah proses berkomunikasi secara tidak langsung antara penulis
dengan pembacanya.[3]
Menurut
Henry Guntur Tarigan, menulis adalah salah satu keterampilan berbahasa yang
produktif dan eksprensif yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak
langsung dan tidak secara tatap muka dengan pihak lain. Sedangkan menurut
Byrne, menulis karangan atau mengarang adalah menuangkan buah pikiran ke dalam
bahasa tulis melalui kalimat yang dirangkai secara utuh dan jelas sehingga
dapat dikomunikasikan kepada pembaca dengan berhasil.[4]
Dari
beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa menulis adalah proses
berkomunikasi secara tidak langsung antara penulis dengan pembacanya dalam menuangkan
buah pikiran penulis ke dalam bahasa tulis melalui kalimat yang dirangkai
secara utuh dan jelas.
B.
Hakikat Menulis
Menulis ialah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik
yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami seseorang sehingga orang lain dapat
membaca lambang-lambang
grafik tersebut yang di dalamnya mengandung pesan
yang dibawa penulis. Pesan yang dibawa oleh penulis melalui gambar huruf-huruf disebut karangan. Karangan sebagai ekspresi
pikiran, gagasan, pendapat, pengalaman disusun secara sistematis dan logis.
Seseorang yang terampil
menulis tanpa terampil mengarang tidak mempunyai arti sebab tidak ada yang
dinikmati pembaca. Sebaliknya, terampil mengarang belum tentu terampil menulis
karena dalam mengarang yang terlibat hanya ekspresi atau imajinasi. Hal tersebut
dapat dilakukan baik melalui bahasa lisan maupun tulis. Akan tetapi, jika
terampil menulis berarti harus terampil dalam mengarang karena ada karangan yang
dihasilkan sebagai ekspresi pikiran dan perasaan. Dengan kata
lain, mengarang merupakan bagian dari menulis. Keduanya saling melengkapi.[5]
C.
Tujuan Menulis
Mengetahui tujuan menulis sangat penting, sebelum mulai menulis
harus mengajukan pertanyaan kepada diri sendiri. Bila banyak telah disadari
tujuan baru dapat mulai menulis. Hal ini penting karena menulis itu merupakan
pekerjaan yang memerlukan waktu dan pemikiran dan bukan suatu permainan atau
suatu rekreasi. Sebagai suatu pekerjaan harus dilakukan dengan dorongan yang kuat.
Dorongan ini muncul karena adanya tujuan yang jelas. Disamping itu, kesempatan
untuk sukses dalam menulis akan terbuka lebih luas bila penulis memahami tujuan
menulis dan selalu memegang teguh tujuan itu selama menulis. Pada prinsipnya
tujuan utama dan tulisan adalah sebagai alat komunikasi yang tidak langsung.
Menurut Hugo Hartig
dalam tarigan merumuskan tujuan menulis di antaranya adalah:
1.
Tujuan penugasan
Penulis
sebenarnya tidak memilki tujuan karena orang yang menulis melakukannya karena
tugas yang diberikan kepadanya.
2.
Tujuan altruistik
Penulis
bertujuan untuk menyenangkan pembaca, menghindarkan kedudukan pembaca, ingin
menolong pembaca memahami, menghargai perasaan dan penalarannya, ingin membuat
hidup para pembaca lebih mudah dan lebih menyenangkan dengan karyanya itu.
3.
Tujuan persuasif
Penulis
bertujuan meyakinkan para pembaca akan kebenaran gagasan yang diutarakan.
4.
Tujuan informasional
Penulis
bertujuan memberi informasi atau keterangan kepada para pembaca.
5.
Tujuan pernyataan diri
Penulis
bertujuan memperkenalkan atau menyatakan dirinya kepada pembaca.
6.
Tujuan kreatif penulis
Penulis
bertujuan melibatkan dirinya dengan keinginan mencapai norma
artistik,nilai-nilai kesenian.
7.
Tujuan pemecahan masalah
Penulis
bertujuan untuk memecahkan masalah yang dihadapi.[6]
D.
Jenis-Jenis Menulis
Menulis dapat diklasifikasikan berdasarkan dua
sudut pandang yang berbeda. Sudut pandang tersebut adalah kegiatan atau
aktivitas dalam melaksanakan menulis dan hasil dari produk menulis itu.
Klasifikasi menulis berdasarkan sudut pandang kedua menghasilkan pembagian
produk menulis atau empat kategori, yaitu; karangan narasi, eksposisi,
deskripsi, dan argumentasi. Berikut ini akan dijelaskan satu persatu.
1. Eksposisi
Eksposisi biasa juga disebut pemaparan, yakni
salah satu bentuk karangan yang berusaha menerangkan, menguraikan atau
menganalisis suatu pokok pikiran yang dapat memperluas pengetahuan dan
pandangan seseorang. Penulis berusaha memaparkan kejadian atau masalah secara
analisis dan terperinci memberikan interpretasi terhadap fakta yang
dikemukakan. Dalam tulisan eksposisi, teramat dipentingkan informasi yang
akurat dan lengkap. Eksposisi merupakan tulisan yang sering digunakan untuk
menyampaikan uraian ilmiah, seperti makalah, skripsi, tesis, desertasi, atau
artikel pada surat kabar atau majalah.
Jika hendak menulis bagaimana peraturan bermain
sepak bola, cara kerja pesawat, bagaimana membuat tempe, misalnya, maka jenis
tulisan eksposisi sangat tepat untuk digunakan. Ekposisi berusaha menjelaskan
atau menerangkan. Parera mengemukakan bahwa “Seorang pengarang eksposisi akan
mengatakan, Saya akan menceritakan kepada kalian semua kejadian dan peristiwa
ini dan menjelaskan agar Anda dapat memahaminya.” Dari uraian di atas, dapat
dipahami bahwa untuk menulis karangan eksposisi maka, penulis harus memiliki
pengetahuan memadai tentang objek yang akan digarapnya.
Untuk
itu, maka seorang penulis harus memperluas pengetahuan dengan berbagai cara
seperti membaca referensi yang berkaitan dengan masalah yang dikaji melakukan
penelitian, misalnya wawancara, merekam pembicaraan orang, mengedarkan angket,
melakukan pengamatan terhadap objek dan sebagainya. Untuk menghasilkan tulisan
ekposisi yang baik pikiran utama dan pikiran penjelas harus diorganisir dalam
bentuk kerangka karangan yang pada umumnya dibagi dalam tiga bagian yaitu,
bagian pembuka (pendahuluan) bagian pengembangan (isi), dan bagian penutup yang
merupakan penegasan ide.[7]
2.
Deskripsi
Deskripsi adalah pemaparan atau penggambaran
dengan kata-kata suatu benda, tempat, suasana atau keadaan. Seorang penulis
deskripsi mengharapkan pembacanya, melalui tulisannya, dapat ‘melihat’ apa yang
dilihatnya, dapat ‘mendengar’ apa yang didengarnya, ‘merasakan’ apa yang
dirasakanya, serta sampai kepada ‘kesimpulan’ yang sama dengannnya. Dari sini
dapat disimpulkan bahwa deskripsi merupakan hasil dari obesrvasi melalui panca
indera, yang disampaikan dengan kata-kata.
Contoh deskripsi: Pasar Blaura merupakan pasar
perbelanjaan yang sempurna. Semua barang ada di sana. Di bagian terdepan
berderet toko sepatu dalam dan luar negeri. Di lantai satu terdapat toko
pakaian yang lengkap berderet-deret. Di samping kanan pasar terdapat stan-stan
kecil penjual perkakas dapur. Di samping kiri ada pula jenis buah-buahan. Pada
bagian belakang kita dapat menemukan berpuluh-puluh pedagang kecil yang
berjualan makanan dan minuman. Belum lagi kalau kita melihat lantai di atasnya.[8]
3.
Narasi
Narasi atau kisahan merupakan corak tulisan
yang bertujuan menceritakan rangkaian peristiwa atau pengalaman manusia
berdasarkan perkembangan dari waktu ke waktu. Paragraf narasi itu dimaksudkan
untuk memberi tahu pembaca atau pendengar tentang apa yang telah diketahui atau
apa yang dialami oleh penulisnya. Narasi lebih menekankan pada dimensi waktu
dan adanya konflik.
Contoh
Narasi: Sore itu kami pergi ke rumah Puspa. Sopir kusuruh memakirkan mobil.
Kemudian, kami memasuki gang kecil. Beberapa waktu kemudian, kami sampai di
sebuah rumah yangh sederhana seperti rumah-rumah di sekitarnya. Rumah-rumah itu
tanpak tidak semewah rumah-rumah gedung yang terletak di pinggir jalan. Pintu
rumah yang sederhana itu terbuka pelan. Seorang gadis berlari dan memelukku.
Gadis itu tiba-tiba pinsan dan terkulai lemas dalam pelukanku.
4.
Argumentasi
Argumentasi merupakan corak tulisan yang
bertujuan membuktikan pendapat penulis meyakinkan atau mempengaruhi pembaca
agar menerima pendapanya. Argumentasi berusaha meyakinkan pembaca. Cara
menyakinkan pembaca itu dapat dilakukan dengan jalan menyajikan data, bukti,
atau hasil-hasil penalaran.Contoh Argumentasi: Kedisiplinan lalu lintas
masayarakat di Jakarta cenderung menurun. Hal ini terbukti pada bertambahnaya
jumlah pelanggarannya yang tercatat di kepolisian. Selain itu, jumlah korban
yang meninggal akibat kecelakaan pun juga semakin meningkat. Oleh karena itu, kesadaran
mesyarakat tentang kedisplinan berlalu lintas perlu ditingkatkan.
5.
Persuasi
Persuasi adalah karangan yang berisi paparan
berdaya-ajuk, ataupun berdaya himbau yang dapat membangkitkan ketergiuran
pembaca untuk meyakini dan menuruti himbauan implisit maupun eksplisit yang
dilontarkan oleh penulis. Dengan kata lain, persuasi berurusan dengan masalah
mempengaruhi orang lain lewat bahasa. Contoh Persuasi: Bahasa adalah alat
komunikasi. Sebagai alat, bahas saangat luwes dalam menjalankan fungsinya,
bahasa dapat dipakai oleh pemakaiannya untuk kepentingan apa saja selama dalam
batas-batas fungsinya sebagai alat komunikasi.
Anda tenttunya dapat mengatakan pikiran ini
dengan kenyataan kehidupan sehari-hari. Karena pemakaian bahasa yang luwes ini
kita dapat menemukan akibatnya dalam masyarakat: terjadi penipuan, kesuksesan,
kedengkian, percekcokan, dan sejenisnya. Kita bisa mengaitkan masalah ini
misalnya dengan kemampuan seorang ”penjual obat” Obat atau jamu yang dibawanya
biasanya disangsikan orang ketinggian mutunya. Tetapi mengapa dia bisa berhasil memperdayakan
orang lain untuk membeli obat atau jamunya ? Salah satu faktor yang tidak bisa
diingkari adalah karena bahasa yang dipakainya. Dia berhasil memanfaatkan
bahasa sebagai alat untuk mempengaruhi orang lain.[9]
E.
Hambatan Menulis
Berikut ini merupakan hambatan yang
menyebabkan anak mengalami kesulitan
menulis yaitu:
1. Lingkungan
keluarga
Orangtua merupakan guru bahasa pertama yang
memberikan makna lisan dari benda-benda yang ada disekitarnya. Namun terkadang
orangtua kurang memperhatikan anaknya. Keberhasilan anak sekolah padadasarnya
dapat ditentukan pada apa yang dilakukan di rumah&, dorongan serta
rangsangan minat menulis anak. Luangkan waktu untuk membimbingnya,
kenalkan anak pada huruf abjad, ajarkan pada anak cara memegang pensil yang benar, sikap menulis yang benar supaya
anak memiliki kemampuan dasar menulis dari rumah.
2. Lingkungan
sekolah
a. Adanya
penggunaan metode pengajaran yang kurang tepat sehinggatimbul permasalahan
dalam proses pembelajaran menulis anak
b. Materi-materi
yang diajarkan belum tepat, belum sesuai dengantingkat perkembangan intelektual
siswa Sekolah Dasar kelas I
c. Guru kurang
memahami keinginan siswa
d. Siswa yang
benar-benar malas belajar menulis.
e. Kemampuan
menulis seperti halnya dengan kemampuan berbahasa yang lain, yaitu tidak akan
datang secara otomatis, melainkan harus melalui latihan dan praktek yang banyak
dan teratur. Sejak awal masuk sekolah
anak harus belajar menulis dengan tangan karena kemampuan ini
merupakan prasyarat bagi upaya belajar berbagai bidang studi yang lain.
Kesulitan menulis dengan tangan tidak hanya menimbulkan masalah bagi anak,
tetapi juga guru. Tulisan yang tidak jelas misalnya, baik anak maupun guru
tidak dapat membaca tulisan tersebut.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan anak untuk menulis antara lain:
a.
Motorik
Anak yang perkembangan motoriknya belum matang akan mengalami gangguan dalam menulis (tulisan tidak jelas, putus- putus atau tidak mengikuti garis).
Contoh anak yang kesulitan dalam motorik dapat dilihat disini: https://www.youtube.com/watch?v=CwFsefn6Lh0
b.
Perilaku
Anak yang hiperaktif atau yang perhatiannya mudah teralihkan, dapat menyebabkan pekerjaannya terhambat, termasuk pekerjaan menulis.
c.
Persepsi
Anak yang terganggu persepsinya dapat menimbulkan kesulitan dalam
menulis. Jika persepsi visualnya yang terganggu, anak mungkin akan sulit membedakan bentuk-bentuk huruf yang
hampir sama seperti d dengan b, p dengan q, dan lain-lain. Namun apabila jika
persepsi auditorisnya yang terganggu, mungkin anak akan mengalami kesulitan
menulis kata-kata yang diucapkan oleh guru.
d. Memori
Gangguan memori juga dapat menjadi penyebab terjadinya
kesulitan belajar menulis karena anak tidak mampu mengingat apa yang akan
ia tulis.
e.
Kemampuan melaksanakan
cross modal
Kemampuan melaksanakan cross modal menyangkut kemampuan mentransfer
dan mengorganisasikan fungsi visual ke motorik.
f.
Penggunaan tangan
yang dominan
Anak yang tangan kirinya lebih dominan atau kidal, tulisannya
jugasering terbalik-balik dan kotor.[10]
g. Kemampuan memahami instruksi
Jika anak tidak memiliki kemampuan untuk memahami instruksi dapat
menyebabkan anak sering keliru menulis kata-kata yang sesuai
dengan perintah guru. Kesulitan belajar menulis sering disebut juga dengan
istilah disgrafia (disgraphia). Kesulitan belajar menulis yang berat disebut
juga agrafia. Disgrafia menunjuk pada adanya ketidakmampuan mengingat cara
membuat huruf atau simbol-simbol matematika.
Disgrafia sering dikaitkan dengan kesulitan belajar membaca atau
disleksia (dyslexia) karena jenis kesulitantersebut sesungguhnya sangat
terkait.[11] Kesulitan belajar menulis sering dikaitkan dengan cara anak
memegang pensil yang dapatdijadikan
sebagai petunjuk bahwa anak berkesulitan belajar menulis, yaitu:
a.
Sudut pensil terlalu besar.
b.
Sudut pensil terlalu kecil.
c.
Menggenggam pensil.
d.
Menyangkutkan pensil ditangan atau menyeret. Jenis
memegang pensil yang terakhir (menyeret pensil) adalah khas bagi anak
kidal.[12]
F.
Solusi Menulis
Ada 10 macam aktifitas yang dapat digunakan
untuk membantu anak berkesulitan belajar menulis dengan tangan
(menulis permulaan) sebagai berikut:
1.
Aktifitas menggunakan papan tulis
Aktifitas ini dilakukan sebelum pelajaran
menulis yang sesungguhnya. Kepada anak disediakan papan tulis dan
sepidol/kapur, dan pada papan tulis tersebut anak diberi kebebasan untuk
menggambar garis, lingkaran, dsb.
2. Posisi
Untuk latihan menulis, anak hendaknya
disediakan kursi yang nyamandan meja yang cukup berat agar tidak mudah goyang.
Kedua tangan anak diletakkan diatas meja, tangan yang satu untuk menulis
dan tangan yang lain untuk
memegang kertas
bagian atas.
Berikut paparan karya ilmiah yang menjelaskan posisi duduk yang
benar secara rinci dapat dilihat disini:
https://id-id.facebook.com/notes/lyra-giotto-das-indonesia/tips-posisi-ketika-menulis-menggambar/222643231093127/
3.
Kertas
Posisi kertas untuk menulis cetak sejajar
dengan sisi meja, untuk menulis tulisan sambung 60 derajat ke kiri bagi anak
yang menggunakan tangankanan, dan 60 derajat ke kanan bagi anak yang
menggunakan tangan kiri atau kidal. Agar kertas tidak bergerak, dapat direkat
dengan selotip.
4.
Memegang pensil
Banyak anak berkesulitan belajar menulis yang
memegang pensil dengan cara yang tidak benar. Untuk memegang pensil yang benar,
ibu jari dan telunjuk di atas pensil, sedangkan jari tengah berada di bawah
pensil dan pensil di pegang agak sedikit di atas bagian yang diraut. Bagi
anak yang belum dapat memegang pensil dengan benar, bagian pensil
yang harus dipegang dapat dibatasi dengan selotip atau latihan dapat dimulai dengan
spidol besar, spidol sedang, spidol
biasa dan baru kemudian pensil. Berikut ada dua contoh memegang pensil yang
benar dapat dilihat dari video di website ini:
https://www.youtube.com/watch?v=gf1P8C6KZdQ
5.
Titik-titik
Guru membuat dua jenis huruf, huruf yang utuh
dan huruf yang terbuatdari titik titik. Selanjutnya, anak diminta untuk
menghubungkan titik-titik tersebut menjadi huruf yang utuh
6.
Menjiplak dengan semakin dikurangi
Pada mulanya guru menulis huruf utuh dan anak
diminta untuk menjiplak huruf tersebut. Lama kelamaan guru yang menulis
sebagian besar hingga sebagian kecil huruf tersebut dan anak diminta untuk
meneruskan penulisan
7.
Buku bergaris tiga
Buku bergaris tiga sering disebut juga buku
tebal tipis (halus kasar). Dengan buku bergaris semacam itu, anak dapat
berlatih membuat dan meletakkan huruf-huruf secara benar.
8.
Memperhatikan tingkat kesulitan penulisan huruf
Ada huruf yang mudah dan ada pula huruf yang
sulit ditulis. Berbagai huruf yang mudah
ditulis adalah m, n, t, i, u, r, s, l, dan e sedangkan yang sulit adalah x, z, y,
j, p, b, h, k, f, g dan q. Anak hendaknya diajar menulis dengan huruf-huruf
yang lebih mudah, meningkat ke yang lebih sulit dan baru kemudian gabungan
dari keduanya.
9.
Bantuan verbal
Pada saat anak sedang menulis, guru dapat
memberikan bantuan dengan mengucapkan petunjuk seperti “naik”, “turun”, “belok”,
“stop”,dll.
10.
Kata dan kalimat
Setelah anak mampu menulis huruf-huruf, latihan
ditingkatkan dengan menulis kata-kata dan selanjutnya kalimat. Penempatan
huruf, ukuran dan kemiringan hendaknya juga memperoleh perhatian.[13]
G.
Metode Menulis
Menurut Mackey , metode pembelajaran di kelas
rendah akan diuraikan sebagai berikut :
1. Metode Eja
Pembelajaran MMP dengan metode eja memulai
pengajarannya dengan memperkenalkan huruf-huruf secara alpabetis. Huruf-huruf
tersebut dihapalkan dan dilafalkan murid sesuai dengan bunyinya menurut abjad.
Sebagai contoh A a, B b, C c, D d, E e, F f, dan seterusnya.
Dilafalkan sebagai a, be, ce, de, e, ef, dan
seterusnya. Kegiatan ini diikuti dengan →latihan menulis lambing tulisan,
seperti a, b, c, d, dan seterusnya atau dengan huruf rangkai, a, b, c, d, dan
seterusnya. Setelah melalui tahapan ini, para murid diajarkan untuk perkenalan
dengan suku kata dengan cara merangkaikan beberapa huruf yang sudah
dikenalnya. Misalnya :
b, a → ba (dibaca
be. a → ba )
d, u → du ( dibaca de, u → du )
ba-du dilafalkan Badu
b, u, k, u menjadi b, u → bu (dibaca be, u → bu
)
k, u → ku (dibaca ka, u →
ku )ontoh, ambillah kata”
Proses ini sama dengan menulis permulaan, setelah
murid-murid dapat menulis huruf-huruf lepas, kemudian dilanjuutkan dengan
belajar menulis rangkai huruf yang berupa suku kata. Sebagai contoh, ambillah
kata
”badu” tadi. Selanjutnya, murid
diminta menulis seperti : ba - du → badu.
Proses pembelajaran selanjutnya
adalah pengenalan kalimat-kalimat sederhana. Contoh perangkaian huruf menjadi
suku kata, suku kata menjadi kata, dan kata menjadi kalimat diupayakan
mengikuti prinsip pendekatan spiral, pendekatan kumunikatif, dan pendekatan
pengalaman berbahasa.
Artinya, pemilihan bahan ajar untuk pembelajaran MMP hendaknya dimulai dari
hal-hal yang konkrit menuju hal-hal yang abstrak, dari hal-hal yang mudah, akrab,
familiar, dengan kehiduipan murid menuju hal-hal yang sulit dan mungkin
meruipakan sesuatu yang baru bagi murid. Kelemahan yang mendasar dari
penggunaan metode eja ini meskipun murid mengenal dan hafal abjad dengan baik,
namun murid tetap mengalami kesulitan dalam mengenal rangkaian huruf yang
berupa suku kata atau kata.
2. Metode suku kata dan metode kata
Proses pembelajaran MMP dengan metode ini diawali dengan pengenalan suku kata, seperti ba, bi,
bu, be, bu, ca, ci, cu, ce, cu, da, di ,du, de, du, ka, ki, ku, ke, ku dan
seterusnya. Suku-suku kata tersebut kemudian dirangkai menjadi kata bermakna.
Sebagai contoh, dari daftar suku kata tadi, guru dapat membuat berbagai variasi
paduan suku kata menjadi kata-kata bermakna, untuk bahan ajar MMP. Kata-kata
tadi misalnya:
ba – bi cu – ci da – da ka – ki
ba – bu ca – ci du – da ku
– ku
bi – bi ci – ca da – du ka – ku
ba – ca ka – ca du – ka ku
– da
Kegiatan tersebut dapat
dilanjutkan dengan proses perangkaian kata menjadi kalimat sederhana. Proses
perangkaian suku kata menjadi kata, kata menjadi kalimat sederhana, kemudian
ditindak lanjuti dengan proses pengupasan atau penguraian bentuk-bentuk
tersebut menjadi satuan bahasa terkecil dibawahnya, yakni dari kalimat kedalam
kata dan kata kedalam suku-suku kata.
Proses pembelajaran MMP yang melibatkan kegiatan merangkai dan mengupas, kemudian dilahirkan
istilah lain untuk metode ini yakni metode rangkai kupas.
3. Metode Global
Metode Global artinya secara utuh dan bulat. Dalam metode
global yang disajikan pertama kali pada murid adalah kalimat seutuhnya. Kalimat
tersebut dituliskan dibawah gambar yang sesuai dengan isi kalimatnya. Setelah
berkali-kali membaca, murid dapat membaca kalimat-kalimat itu secara global
tanpa gambar.
Sebagai contoh dapat dilihat bahan ajar untuk
MMP yang menggunakan metode global.
a.
Memperkenalkan gambar dan kalimat
b.
Menguraikan salah satu kalimat menjadi kata,
kata menjadi suku kata. Contoh: Kata menjadi huruf-huruf
4. Metode Structural
Analisis Sintesis (SAS)
Merupakan salah satu jenis metode yang biasa
digunakan proses pembelajaran MMP bagi siswa pemula. Pembelajaran MMP dengan
metode ini mengawali pembelajarannya dengan dua tahap, yakni menampilkan dan
memperkenalkan sebuah kalimat utuh. Mula-mula anak disuguhi sebuah struktur yang
member makna lengkap, yakni skruktur kalimat.
Hal ini dimaksudkan untuk membangun
konsep-konsep “kebermaknaan” pada diri anak. Akan lebih baik jika strukturnya
kalimat yang disajikan sebagai bahan pembelajan MMP dengan metode ini adalah
struktur kalimat yang digali dari pengalaman berbahasa si pembelajar itu
sendiri. Untuk itu, sebelum kegiatan belajar mengajar (KBM) MMP yang sesungguh
nya dimulai, guru dapat melakukan pra-KBM melalui berbagai cara.
Proses penguraian atau penganalisisan dalam
pembelajaran MMP dengan metode SAS meliputi:
a.
Kalimat menjadi kata-kata
b.
Kata menjadi suku-suku kata
c.
Suku kata menjadi huruf-huruf[14]
BAB
III
PENUTUP
A.
Simpulan
Menulis adalah proses berkomunikasi secara
tidak langsung antara penulis dengan pembacanya dalam menuangkan buah pikiran
penulis ke dalam bahasa tulis melalui kalimat yang dirangkai secara utuh dan
jelas.
Hakikat menulis ialah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik
yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami seseorang sehingga orang lain dapat
membaca lambang-lambang
grafik tersebut yang di dalamnya mengandung pesan
penulis.
Tuj penulisan
diantaranya: 1. Tujuan penugasan, 2. Tujuan altruistik, 3. Tujuan persuasif, 4.
Tujuan informasional, 5. Tujuan pernyataan diri dan 6. Tujuan kreatif penulis.
Jenis menulis
diantaranya: 1. Eksposisi, 2. Deskripsi, 3. Narasi, 4. Argumentasi dan 5.
Persuasi.
Hambatan menulis
ada dua, hambatan di Lingkungan
keluarga dan hambatan di Lingkungan sekolah.
Solusi dalam menulis diantaranya: 1.
Aktifitas menggunakan papan tulis, 2. Posisi, 3. Kertas, 4. Memegang pensil, 5.
Titik-titik, 6. Menjiplak dengan semakin dikurangi, 7. Buku bergaris tiga. 8. Memperhatikan tingkat kesulitan
penulisan huruf, 9. Bantuan verbal dan
10. Kata dan kalimat.
Metode menulis diantaranya: 1. Metode Eja, 2. Metode suku kata dan metode kata, 3. Metode Global,
4. Metode Structural Analisis Sintesis
(SAS).
B.
Saran
Sejalan dengan pendahuluan diatas, penulis memberi saran kepada dirinya
sendiri ataupun para pembaca agar bisa memahami lebih khusus keterampilan berbahasa Indonesia khususnya dalam hal menulis, yang berguna bagi dirinya sebagai calon
seorang pendidik, agar mereka mampu mengajarkan secara maksimal keterampilan
menulis tersebut kepada siswa/siswi di jenjang pendidikan Madrasah secara baik berdaya guna dan berhasil guna.
DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Yunus. Pembelajaran Bahasa Berbasis Pendidikan Karakter.
Bandung: Refika Aditama, 2012.
Guntur Tarigan, Henry. Menulis Sebagai Keterampilan Berbahasa.
Bandung: Angkasa, 2008.
Ice, Sutari. Dasar-Dasar Kemampuan Menulis. Bandung: FPBS
IKIP Bandung, 1997.
Jos Daniel, Parera. Menulis Tertib dan Sistematik. Jakarta:
Erlangga, 1993.
Mulyono, Abdurrahman. Pendidikan bagi Anak Berkesulitan Belajar.
Jakarta: Rineka Cipta, 2003.
Sabarti, Akhadiah. et al, Pembinaan Kemampuan Menulis
Bahasa Indnesia. Jakarta: Erlangga, 1991.
Zamzami dan Haryadi, Peningkatan Keterampilan Berbahasa
Indonesia. Jakarta: Dirjen Dikti, 1996.
Syarif, Elina. et al., “Pembelajaran Menulis”. 2009. https://arifinmuslim.files.wordpress.com/2011/12/menulis-kkg.pd.
diakses
1 April 2019.
[1]Haryadi dan
Zamzami, Peningkatan Keterampilan Berbahasa Indonesia, (Jakarta: Dirjen
Dikti, 1996, h. 75.
[2]Akhadiah
Sabarti, et al, Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indnesia,
(Jakarta: Erlangga, 1991), h. 111.
[3]Yunus Abidin, Pembelajaran Bahasa Berbasis Pendidikan Karakter,
(Bandung: Refika Aditama, 2012), h. 181.
[4]Henry Guntur Tarigan, Menulis Sebagai Keterampilan Berbahasa,
(Bandung: Angkasa, 2008), h. 22.
[5]Sutari Ice, Dasar-Dasar
Kemampuan Menulis, (Bandung: FPBS IKIP Bandung, 1997), h. 12.
[6]Henry Guntur
Tarigan, op. cit., h. 24-25.
[7]Parera Jos
Daniel, Menulis Tertib dan Sistematik, (Jakarta: Erlangga, 1993), cet.
ke-2, h. 5.
[9]Elina Syarif, et
al., “Pembelajaran Menulis”. 2009. https://arifinmuslim.files.wordpress.com/2011/12/menulis-kkg.pdf,
h. 3-4. diakses 1 April 2019.
[10]Abdurrahman
Mulyono, Pendidikan bagi Anak Berkesulitan Belajar, (Jakarta: Rineka
Cipta, 2003), h. 227.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar