Kamis, 02 Mei 2019

Keterampilan Berbahasa Indonesia "Menulis"


KETERAMPILAN BERBAHASA INDONESIA “MENULIS”
Disajikan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Bahasa Indonesia
MI/SD Kelas Rendah
Dosen Pengampu: Tutus Rani Arifa, M.Pd


Disusun oleh:
                                            Muhammad Saleh:    (17520031) 
                                            Sam’ani:                     (17520019)
                                            Muhammad Amin:    (18520121) 
                                            Maria Ulfah:              (18520122)

Semester 4
PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS STUDI ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM KALIMANTAN MUHAMMAD ARSYAD
AL-BANJARI
BANJARMASIN
2018/2019


Peta Konsep













بـــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــسم الله الرحمن الرحيــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــم
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kami panjatkan puji syukur atas kehadirat-Nya, sholawat serta salam kami haturkan kepada nabi besar Nabi Muhammad saw. Dengan rahmat Allah dan berkat Rasulullah kami dapat menyelesaikan makalah yang kami beri judul “Keterampilan Berbahasa Indonesia (Menulis)”.
Penulisan ini kami susun dengan bantuan pihak lainnya, kami menyampaikan terima kasih kepada Ibu dosen Tutus Rani Arifa, M.Pd, dan juga pihak yang berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Ibarat “tak ada gading yang tak retak” terlepas dari semua itu, penulis menyadari bahwa masih ada kekurangan dari segi isi maupun tata bahasa. Karena itu kami menerima segala saran dan kritik yang bersifat membangun dari para pembaca agar dapat memperbaiki makalah kami.
Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan banyak manfaat kepada kami maupun terhadap para  pembaca. Amin ya rabbal alamin.

Banjarmasin, 1 April 2019
Penulis





DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..............................................................................   ii
DAFTAR ISI.............................................................................................    iii
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang................................................................................    1
B.     Rumusan Masalah...........................................................................    3
C.     Tujuan..............................................................................................   3
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Menulis..........................................................................   4
B.     Hakikat Menulis…..........................................................................    5
C.     Tujuan Menulis……………………………………………………   5
D.    Jenis-Jenis Menulis ………………………………………………...  6
E.     Hambatan Menulis ………………………………………………… 10
F.      Solusi Menulis ……………………………………………………..  13
G.    Metode Menulis …………………………………………………… 15
BAB III
PENUTUP
A.    Simpulan.........................................................................................    18
B.     Saran...............................................................................................    18
DAFTAR PUSTAKA



BAB 1
PENDAHULUAN
A.                Latar Belakang
Menulis merupakan salah satu aspek keterampilan berbahasa yang harus dikuasai siswa, selain ketiga keterampilan lain yaitu membaca, menyimak dan berbicara. Pembelajaran menulis di SD diberikan melalui mata pelajaran Bahasa Indonesia. Menurut pendapat Pelly, meskipun pembelajaran menulis telah disadari merupakan bagian penting dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di SD, namun pada kenyataannya pembelajaran menulis kurang mendapat perhatian dari guru maupun siswa. Pembelajaran menulis atau mengarang kurang ditangani secara sungguh–sungguh, sehingga pembelajaran menulis yang dimiliki siswa kurang memadai.[1]
Menulis sangat penting untuk dikuasai peserta didik. Menulis akan banyak memberikan manfaat dalam kehidupan yang serba maju sekarang ini. Menulis merupakan suatu kegiatan yang penting untuk dapat menuangkan isi pikiran, gagasan atau pendapat, ide maupun perasaan seseorang. Menurut Sabarti Akhadiah, kemampuan menulis didapatkan bukan melalui warisan, tetapi didapatkan melalui proses belajar mengajar.[2]
Menulis dapat dimiliki oleh semua siswa jika mereka mendapat bimbingan dan latihan menulis secara intensif. Selain itu, peran guru juga sangat penting dalam melatih dan membimbing siswa menulis karangan dengan baik. Perbaikan dan umpan balik dari guru juga sangat diperlukan agar setiap kesalahan maupun kesulitan yang dihadapi siswa dapat diatasi, sehingga menulis karangan siswa dapat meningkat. Seorang guru seharusnya mampu merangsang daya pikir dan kreatifitas peserta didik dalam mengekspresikan perasaan dan pendapatnya baik secara lisan maupun tertulis.
Dari paparan diatas, sudah terlihat jelas bahwa diharapkan kita sebagai seorang guru wajib memiliki keterampilan  menulis, agar kelak dapat memberikan pengetahuan tentang kemampuan menulis yang baik kepada peserta didik. Dengan demikian, makalah ini disusun dengan tujuan agar kita lebih memahami materi mengenai menulis dan dapat mengaplikasikannya didalam kehidupan nyata.
B.                Rumusan Masalah
Sesuai dengan judul makalah yang telah diberikan ibu dosen, penulis merumuskan rumusan masalah sebagai berikut:
1.    Apa yang dimaksud dengan menulis ?
2.    Bagaimana hakikat menulis ?
3.    Apa tujuan dari menulis ?
4.    Apa saja jenis menulis ?
5.    Apa saja hambatan dalam menulis ?
6.    Bagaimana solusi dalam menulis ?
7.    Apa saja metode menulis ?
C.                Tujuan Penulisan Makalah
Sejalan dengan rumusan masalah diatas, makalah ini disusun dengan tujuan untuk:
1.      Mengetahui apa yang dimaksud dengan menulis
2.      Mengetahui bagaimana hakikat menulis
3.      Mengetahui tujuan dari menulis
4.      Mengetahui apa saja jenis menulis
5.      Mengetahui apa saja hambatan dalam menulis
6.      Mengetahui bagaimana solusi dalam menulis
7.      Mengetahui apa saja metode menulis




BAB II
PEMBAHASAN
A.                Pengertian Menulis
Akhadiah memandang menulis adalah sebuah proses, yaitu proses penuangan gagasan atau ide ke dalam bahasa tulis yang dalam praktiknya proses menulis diwujudkan dalam beberapa tahapan yang merupakan satu sistem yang utuh. Lebih lanjut Gie menyatakan bahwa menulis memiliki kesamaan makna dengan mengarang, yaitu kegiatan seseorang mengungkapkan gagasan dan menyampaikannya melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami. Dari definisi ini dapat dikemukakan bahwa menulis adalah sebuah proses berkomunikasi secara tidak langsung antara penulis dengan pembacanya.[3]
Menurut Henry Guntur Tarigan, menulis adalah salah satu keterampilan berbahasa yang produktif dan eksprensif yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung dan tidak secara tatap muka dengan pihak lain. Sedangkan menurut Byrne, menulis karangan atau mengarang adalah menuangkan buah pikiran ke dalam bahasa tulis melalui kalimat yang dirangkai secara utuh dan jelas sehingga dapat dikomunikasikan kepada pembaca dengan berhasil.[4]
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa menulis adalah proses berkomunikasi secara tidak langsung antara penulis dengan pembacanya dalam menuangkan buah pikiran penulis ke dalam bahasa tulis melalui kalimat yang dirangkai secara utuh dan jelas.
B.                Hakikat Menulis
Menulis  ialah  menurunkan atau  melukiskalambang-lambang  grafik  yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami seseorang sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang  grafik tersebut  yandi dalamnya mengandung pesan yang dibawa penulis. Pesan yang dibawa oleh penulis melalui gambar huruf-huruf disebut karangan. Karangan sebagai ekspresi pikiran, gagasan, pendapat, pengalaman disusun secara sistematis dan logis.
Seseorang yang terampil menulis tanpa terampil mengarang tidak mempunyai arti sebab tidak ada yang dinikmati pembaca. Sebaliknya, terampil mengarang belum tentu terampil menulis karena dalam mengarang yang terlibat hanya ekspresi atau imajinasi. Hal tersebut dapat dilakukan baik melalui bahasa lisan maupun tulis. Akan tetapi, jika terampil menulis berarti harus terampil dalam mengarang karena ada karangan yang dihasilkan sebagai ekspresi pikiran dan perasaan. Dengan   kata   lain, mengarang merupakan bagian dari menulis. Keduanya saling melengkapi.[5]
C.                Tujuan Menulis
Mengetahui tujuan menulis sangat penting, sebelum mulai menulis harus mengajukan pertanyaan kepada diri sendiri. Bila banyak telah disadari tujuan baru dapat mulai menulis. Hal ini penting karena menulis itu merupakan pekerjaan yang memerlukan waktu dan pemikiran dan bukan suatu permainan atau suatu rekreasi. Sebagai suatu pekerjaan harus dilakukan dengan dorongan yang kuat. Dorongan ini muncul karena adanya tujuan yang jelas. Disamping itu, kesempatan untuk sukses dalam menulis akan terbuka lebih luas bila penulis memahami tujuan menulis dan selalu memegang teguh tujuan itu selama menulis. Pada prinsipnya tujuan utama dan tulisan adalah sebagai alat komunikasi yang tidak langsung. Menurut Hugo Hartig dalam tarigan merumuskan tujuan menulis di antaranya adalah:
1.    Tujuan penugasan
Penulis sebenarnya tidak memilki tujuan karena orang yang menulis melakukannya karena tugas yang diberikan kepadanya.
2.    Tujuan altruistik
Penulis bertujuan untuk menyenangkan pembaca, menghindarkan kedudukan pembaca, ingin menolong pembaca memahami, menghargai perasaan dan penalarannya, ingin membuat hidup para pembaca lebih mudah dan lebih menyenangkan dengan karyanya itu.
3.    Tujuan persuasif
Penulis bertujuan meyakinkan para pembaca akan kebenaran gagasan yang diutarakan.
4.    Tujuan informasional
Penulis bertujuan memberi informasi atau keterangan kepada para pembaca.
5.    Tujuan pernyataan diri
Penulis bertujuan memperkenalkan atau menyatakan dirinya kepada pembaca.
6.    Tujuan kreatif penulis
Penulis bertujuan melibatkan dirinya dengan keinginan mencapai norma artistik,nilai-nilai kesenian.
7.    Tujuan pemecahan masalah
Penulis bertujuan untuk memecahkan masalah yang dihadapi.[6]
D.                Jenis-Jenis Menulis
Menulis dapat diklasifikasikan berdasarkan dua sudut pandang yang berbeda. Sudut pandang tersebut adalah kegiatan atau aktivitas dalam melaksanakan menulis dan hasil dari produk menulis itu. Klasifikasi menulis berdasarkan sudut pandang kedua menghasilkan pembagian produk menulis atau empat kategori, yaitu; karangan narasi, eksposisi, deskripsi, dan argumentasi. Berikut ini akan dijelaskan satu persatu.

1.   Eksposisi
Eksposisi biasa juga disebut pemaparan, yakni salah satu bentuk karangan yang berusaha menerangkan, menguraikan atau menganalisis suatu pokok pikiran yang dapat memperluas pengetahuan dan pandangan seseorang. Penulis berusaha memaparkan kejadian atau masalah secara analisis dan terperinci memberikan interpretasi terhadap fakta yang dikemukakan. Dalam tulisan eksposisi, teramat dipentingkan informasi yang akurat dan lengkap. Eksposisi merupakan tulisan yang sering digunakan untuk menyampaikan uraian ilmiah, seperti makalah, skripsi, tesis, desertasi, atau artikel pada surat kabar atau majalah.
Jika hendak menulis bagaimana peraturan bermain sepak bola, cara kerja pesawat, bagaimana membuat tempe, misalnya, maka jenis tulisan eksposisi sangat tepat untuk digunakan. Ekposisi berusaha menjelaskan atau menerangkan. Parera mengemukakan bahwa “Seorang pengarang eksposisi akan mengatakan, Saya akan menceritakan kepada kalian semua kejadian dan peristiwa ini dan menjelaskan agar Anda dapat memahaminya.” Dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa untuk menulis karangan eksposisi maka, penulis harus memiliki pengetahuan memadai tentang objek yang akan digarapnya.
 Untuk itu, maka seorang penulis harus memperluas pengetahuan dengan berbagai cara seperti membaca referensi yang berkaitan dengan masalah yang dikaji melakukan penelitian, misalnya wawancara, merekam pembicaraan orang, mengedarkan angket, melakukan pengamatan terhadap objek dan sebagainya. Untuk menghasilkan tulisan ekposisi yang baik pikiran utama dan pikiran penjelas harus diorganisir dalam bentuk kerangka karangan yang pada umumnya dibagi dalam tiga bagian yaitu, bagian pembuka (pendahuluan) bagian pengembangan (isi), dan bagian penutup yang merupakan penegasan ide.[7]
2.    Deskripsi
Deskripsi adalah pemaparan atau penggambaran dengan kata-kata suatu benda, tempat, suasana atau keadaan. Seorang penulis deskripsi mengharapkan pembacanya, melalui tulisannya, dapat ‘melihat’ apa yang dilihatnya, dapat ‘mendengar’ apa yang didengarnya, ‘merasakan’ apa yang dirasakanya, serta sampai kepada ‘kesimpulan’ yang sama dengannnya. Dari sini dapat disimpulkan bahwa deskripsi merupakan hasil dari obesrvasi melalui panca indera, yang disampaikan dengan kata-kata.
Contoh deskripsi: Pasar Blaura merupakan pasar perbelanjaan yang sempurna. Semua barang ada di sana. Di bagian terdepan berderet toko sepatu dalam dan luar negeri. Di lantai satu terdapat toko pakaian yang lengkap berderet-deret. Di samping kanan pasar terdapat stan-stan kecil penjual perkakas dapur. Di samping kiri ada pula jenis buah-buahan. Pada bagian belakang kita dapat menemukan berpuluh-puluh pedagang kecil yang berjualan makanan dan minuman. Belum lagi kalau kita melihat lantai di atasnya.[8]
3.    Narasi
Narasi atau kisahan merupakan corak tulisan yang bertujuan menceritakan rangkaian peristiwa atau pengalaman manusia berdasarkan perkembangan dari waktu ke waktu. Paragraf narasi itu dimaksudkan untuk memberi tahu pembaca atau pendengar tentang apa yang telah diketahui atau apa yang dialami oleh penulisnya. Narasi lebih menekankan pada dimensi waktu dan adanya konflik.
 Contoh Narasi: Sore itu kami pergi ke rumah Puspa. Sopir kusuruh memakirkan mobil. Kemudian, kami memasuki gang kecil. Beberapa waktu kemudian, kami sampai di sebuah rumah yangh sederhana seperti rumah-rumah di sekitarnya. Rumah-rumah itu tanpak tidak semewah rumah-rumah gedung yang terletak di pinggir jalan. Pintu rumah yang sederhana itu terbuka pelan. Seorang gadis berlari dan memelukku. Gadis itu tiba-tiba pinsan dan terkulai lemas dalam pelukanku.
4.    Argumentasi
Argumentasi merupakan corak tulisan yang bertujuan membuktikan pendapat penulis meyakinkan atau mempengaruhi pembaca agar menerima pendapanya. Argumentasi berusaha meyakinkan pembaca. Cara menyakinkan pembaca itu dapat dilakukan dengan jalan menyajikan data, bukti, atau hasil-hasil penalaran.Contoh Argumentasi: Kedisiplinan lalu lintas masayarakat di Jakarta cenderung menurun. Hal ini terbukti pada bertambahnaya jumlah pelanggarannya yang tercatat di kepolisian. Selain itu, jumlah korban yang meninggal akibat kecelakaan pun juga semakin meningkat. Oleh karena itu, kesadaran mesyarakat tentang kedisplinan berlalu lintas perlu ditingkatkan.
5.    Persuasi
Persuasi adalah karangan yang berisi paparan berdaya-ajuk, ataupun berdaya himbau yang dapat membangkitkan ketergiuran pembaca untuk meyakini dan menuruti himbauan implisit maupun eksplisit yang dilontarkan oleh penulis. Dengan kata lain, persuasi berurusan dengan masalah mempengaruhi orang lain lewat bahasa. Contoh Persuasi: Bahasa adalah alat komunikasi. Sebagai alat, bahas saangat luwes dalam menjalankan fungsinya, bahasa dapat dipakai oleh pemakaiannya untuk kepentingan apa saja selama dalam batas-batas fungsinya sebagai alat komunikasi.
Anda tenttunya dapat mengatakan pikiran ini dengan kenyataan kehidupan sehari-hari. Karena pemakaian bahasa yang luwes ini kita dapat menemukan akibatnya dalam masyarakat: terjadi penipuan, kesuksesan, kedengkian, percekcokan, dan sejenisnya. Kita bisa mengaitkan masalah ini misalnya dengan kemampuan seorang ”penjual obat” Obat atau jamu yang dibawanya biasanya disangsikan orang ketinggian mutunya. Tetapi mengapa dia bisa berhasil memperdayakan orang lain untuk membeli obat atau jamunya ? Salah satu faktor yang tidak bisa diingkari adalah karena bahasa yang dipakainya. Dia berhasil memanfaatkan bahasa sebagai alat untuk mempengaruhi orang lain.[9]
E.                Hambatan Menulis
Berikut ini merupakan hambatan yang menyebabkan anak mengalami kesulitan menulis yaitu:
1.    Lingkungan keluarga
Orangtua merupakan guru bahasa pertama yang memberikan makna lisan dari benda-benda yang ada disekitarnya. Namun terkadang orangtua kurang memperhatikan anaknya. Keberhasilan anak sekolah padadasarnya dapat ditentukan pada apa yang dilakukan di rumah&, dorongan serta rangsangan minat menulis anak. Luangkan waktu untuk membimbingnya, kenalkan anak pada huruf abjad, ajarkan pada anak cara memegang pensil yang benar, sikap menulis yang benar supaya anak memiliki kemampuan dasar menulis dari rumah.
2.    Lingkungan sekolah
a.    Adanya penggunaan metode pengajaran yang kurang tepat sehinggatimbul permasalahan dalam proses pembelajaran menulis anak
b.    Materi-materi yang diajarkan belum tepat, belum sesuai dengantingkat perkembangan intelektual siswa Sekolah Dasar kelas I
c.    Guru kurang memahami keinginan siswa
d.   Siswa yang benar-benar malas belajar menulis.
e.    Kemampuan menulis seperti halnya dengan kemampuan berbahasa yang lain, yaitu tidak akan datang secara otomatis, melainkan harus melalui latihan dan praktek yang banyak dan  teratur. Sejak awal masuk sekolah anak harus belajar menulis dengan tangan karena kemampuan ini merupakan prasyarat bagi upaya belajar berbagai bidang studi yang lain. Kesulitan menulis dengan tangan tidak hanya menimbulkan masalah bagi anak, tetapi juga guru. Tulisan yang tidak jelas misalnya, baik anak maupun guru tidak dapat membaca tulisan tersebut.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan anak untuk menulis antara lain:
a.    Motorik 
Anak yang perkembangan motoriknya belum  matang akan mengalami gangguan dalam  menulis (tulisan tidak jelas,  putus- putus atau tidak mengikuti garis). Contoh anak yang kesulitan dalam motorik dapat dilihat disini: https://www.youtube.com/watch?v=CwFsefn6Lh0
b.    Perilaku
Anak yang hiperaktif atau yang perhatiannya mudah teralihkan,  dapat menyebabkan  pekerjaannya terhambat,  termasuk pekerjaan menulis.
c.    Persepsi
Anak yang terganggu persepsinya dapat menimbulkan kesulitan dalam menulis. Jika persepsi visualnya yang terganggu, anak mungkin akan  sulit membedakan bentuk-bentuk huruf yang hampir sama seperti d dengan b, p dengan q, dan lain-lain. Namun apabila jika persepsi auditorisnya yang terganggu, mungkin anak akan mengalami kesulitan menulis kata-kata yang diucapkan oleh guru.
d. Memori
Gangguan memori juga dapat menjadi penyebab terjadinya kesulitan belajar menulis karena anak tidak mampu mengingat apa yang akan ia tulis.
e.    Kemampuan melaksanakan cross modal
Kemampuan melaksanakan cross modal menyangkut kemampuan mentransfer dan mengorganisasikan fungsi visual ke motorik.
f.     Penggunaan tangan yang dominan
Anak yang tangan kirinya lebih dominan atau kidal, tulisannya jugasering terbalik-balik dan kotor.[10]
g. Kemampuan memahami instruksi
Jika anak tidak memiliki kemampuan untuk memahami instruksi dapat menyebabkan anak sering keliru menulis kata-kata yang sesuai dengan perintah guru. Kesulitan belajar menulis sering disebut juga dengan istilah disgrafia (disgraphia). Kesulitan belajar menulis yang berat disebut juga agrafia. Disgrafia menunjuk pada adanya ketidakmampuan mengingat cara membuat huruf atau simbol-simbol matematika.
Disgrafia sering dikaitkan dengan kesulitan belajar membaca atau disleksia (dyslexia) karena jenis kesulitantersebut sesungguhnya sangat terkait.[11] Kesulitan belajar  menulis sering dikaitkan dengan cara anak memegang pensil yang dapatdijadikan  sebagai petunjuk bahwa anak berkesulitan belajar menulis, yaitu:
a.    Sudut pensil terlalu besar.
b.    Sudut pensil terlalu kecil.
c.    Menggenggam pensil.
d.   Menyangkutkan pensil ditangan atau menyeret. Jenis memegang pensil yang terakhir (menyeret pensil) adalah khas bagi anak kidal.[12]
F.                 Solusi Menulis
Ada 10 macam aktifitas yang dapat digunakan untuk membantu anak  berkesulitan belajar menulis dengan tangan (menulis permulaan) sebagai berikut:
1.    Aktifitas menggunakan papan tulis
Aktifitas ini dilakukan sebelum pelajaran menulis yang sesungguhnya. Kepada anak disediakan papan tulis dan sepidol/kapur, dan pada papan tulis tersebut anak diberi kebebasan untuk menggambar garis,  lingkaran, dsb.
2.  Posisi
Untuk latihan menulis, anak hendaknya disediakan kursi yang nyamandan meja yang cukup berat agar tidak mudah goyang. Kedua tangan anak diletakkan diatas meja, tangan yang satu untuk menulis dan tangan yang lain untuk memegang kertas bagian atas.
 


Berikut paparan karya ilmiah yang menjelaskan posisi duduk yang benar secara rinci dapat dilihat disini:
 https://id-id.facebook.com/notes/lyra-giotto-das-indonesia/tips-posisi-ketika-menulis-menggambar/222643231093127/



3.    Kertas
Posisi kertas untuk menulis cetak sejajar dengan sisi meja, untuk menulis tulisan sambung 60 derajat ke kiri bagi anak yang menggunakan tangankanan, dan 60 derajat ke kanan bagi anak yang menggunakan tangan kiri atau kidal. Agar kertas tidak bergerak, dapat direkat dengan selotip.
4.    Memegang pensil
Banyak anak berkesulitan belajar menulis yang memegang pensil dengan cara yang tidak benar. Untuk memegang pensil yang benar, ibu jari dan telunjuk di atas pensil, sedangkan jari tengah berada di bawah pensil dan pensil di pegang agak sedikit di atas bagian yang diraut. Bagi anak yang belum dapat memegang pensil dengan benar, bagian pensil yang harus dipegang dapat dibatasi dengan selotip atau latihan dapat dimulai dengan spidol besar,  spidol sedang, spidol biasa dan baru kemudian pensil. Berikut ada dua contoh memegang pensil yang benar dapat dilihat dari video di website ini:
https://www.youtube.com/watch?v=gf1P8C6KZdQ



5.    Titik-titik
Guru membuat dua jenis huruf, huruf yang utuh dan huruf yang terbuatdari titik titik. Selanjutnya, anak diminta untuk menghubungkan titik-titik tersebut menjadi huruf yang utuh
6.    Menjiplak dengan semakin dikurangi
Pada mulanya guru menulis huruf utuh dan anak diminta untuk menjiplak huruf tersebut. Lama kelamaan guru yang menulis sebagian besar hingga sebagian kecil huruf tersebut dan anak diminta untuk meneruskan penulisan
7.    Buku bergaris tiga
Buku bergaris tiga sering disebut juga buku tebal tipis (halus kasar). Dengan buku bergaris semacam itu, anak dapat berlatih membuat dan meletakkan huruf-huruf secara benar.
8.    Memperhatikan tingkat kesulitan penulisan huruf
Ada huruf yang mudah dan ada pula huruf yang sulit ditulis.  Berbagai huruf yang mudah ditulis adalah m, n, t, i, u, r, s, l, dan e sedangkan yang sulit adalah x, z, y, j, p, b, h, k, f, g dan q. Anak hendaknya diajar menulis dengan huruf-huruf yang lebih mudah, meningkat ke yang lebih sulit dan baru kemudian gabungan dari keduanya.
9.    Bantuan verbal
Pada saat anak sedang menulis, guru dapat memberikan bantuan dengan mengucapkan petunjuk seperti “naik”, “turun”, “belok”, “stop”,dll.
10.    Kata dan  kalimat
Setelah anak mampu menulis huruf-huruf, latihan ditingkatkan dengan menulis kata-kata dan selanjutnya kalimat. Penempatan huruf, ukuran dan kemiringan hendaknya juga memperoleh perhatian.[13]
G.               Metode Menulis
Menurut Mackey , metode pembelajaran di kelas rendah akan diuraikan sebagai berikut :
1.    Metode Eja
Pembelajaran MMP dengan metode eja memulai pengajarannya dengan memperkenalkan huruf-huruf secara alpabetis. Huruf-huruf tersebut dihapalkan dan dilafalkan murid sesuai dengan bunyinya menurut abjad. Sebagai contoh A a, B b, C c, D d, E e, F f, dan seterusnya.
Dilafalkan sebagai a, be, ce, de, e, ef, dan seterusnya. Kegiatan ini diikuti dengan →latihan menulis lambing tulisan, seperti a, b, c, d, dan seterusnya atau dengan huruf rangkai, a, b, c, d, dan seterusnya. Setelah melalui tahapan ini, para murid diajarkan untuk perkenalan dengan suku kata dengan cara merangkaikan beberapa huruf yang sudah dikenalnya.  Misalnya : 
              b, a → ba (dibaca be. a → ba )
d, u → du ( dibaca de, u → du )
ba-du dilafalkan Badu
b, u, k, u menjadi b, u → bu (dibaca be, u → bu )
k, u → ku (dibaca ka, u → ku )ontoh, ambillah kata
Proses ini sama dengan menulis permulaan, setelah murid-murid dapat menulis huruf-huruf lepas, kemudian dilanjuutkan dengan belajar menulis rangkai huruf yang berupa suku kata. Sebagai contoh, ambillah kata ”badu” tadi. Selanjutnya, murid diminta menulis seperti : ba - du → badu.
Proses pembelajaran selanjutnya adalah pengenalan kalimat-kalimat sederhana. Contoh perangkaian huruf menjadi suku kata, suku kata menjadi kata, dan kata menjadi kalimat diupayakan mengikuti prinsip pendekatan spiral, pendekatan kumunikatif, dan pendekatan pengalaman berbahasa.
Artinya, pemilihan bahan ajar untuk pembelajaran MMP hendaknya dimulai dari hal-hal yang konkrit menuju hal-hal yang abstrak, dari hal-hal yang mudah, akrab, familiar, dengan kehiduipan murid menuju hal-hal yang sulit dan mungkin meruipakan sesuatu yang baru bagi murid. Kelemahan yang mendasar dari penggunaan metode eja ini meskipun murid mengenal dan hafal abjad dengan baik, namun murid tetap mengalami kesulitan dalam mengenal rangkaian huruf yang berupa suku kata atau kata.
2.    Metode suku kata dan metode kata
Proses pembelajaran MMP dengan metode ini diawali dengan pengenalan suku kata, seperti ba, bi, bu, be, bu, ca, ci, cu, ce, cu, da, di ,du, de, du, ka, ki, ku, ke, ku dan seterusnya. Suku-suku kata tersebut kemudian dirangkai menjadi kata bermakna. Sebagai contoh, dari daftar suku kata tadi, guru dapat membuat berbagai variasi paduan suku kata menjadi kata-kata bermakna, untuk bahan ajar MMP. Kata-kata tadi misalnya:
ba – bi             cu – ci              da – da                        ka – ki
ba – bu            ca – ci               du – da                       ku – ku
bi – bi              ci – ca              da – du                        ka – ku
ba – ca             ka – ca             du – ka                        ku – da
Kegiatan tersebut dapat dilanjutkan dengan proses perangkaian kata menjadi kalimat sederhana. Proses perangkaian suku kata menjadi kata, kata menjadi kalimat sederhana, kemudian ditindak lanjuti dengan proses pengupasan atau penguraian bentuk-bentuk tersebut menjadi satuan bahasa terkecil dibawahnya, yakni dari kalimat kedalam kata dan kata kedalam suku-suku kata.
Proses pembelajaran MMP yang melibatkan kegiatan merangkai dan mengupas, kemudian dilahirkan istilah lain untuk metode ini yakni metode rangkai kupas.
3.    Metode Global
Metode Global artinya secara utuh dan bulat. Dalam metode global yang disajikan pertama kali pada murid adalah kalimat seutuhnya. Kalimat tersebut dituliskan dibawah gambar yang sesuai dengan isi kalimatnya. Setelah berkali-kali membaca, murid dapat membaca kalimat-kalimat itu secara global tanpa gambar.
Sebagai contoh dapat dilihat bahan ajar untuk MMP yang menggunakan metode global.
a.    Memperkenalkan gambar dan kalimat
b.    Menguraikan salah satu kalimat menjadi kata, kata menjadi suku kata. Contoh: Kata menjadi huruf-huruf
4.    Metode Structural Analisis Sintesis (SAS)
Merupakan salah satu jenis metode yang biasa digunakan proses pembelajaran MMP bagi siswa pemula. Pembelajaran MMP dengan metode ini mengawali pembelajarannya dengan dua tahap, yakni menampilkan dan memperkenalkan sebuah kalimat utuh. Mula-mula anak disuguhi sebuah struktur yang member makna lengkap, yakni skruktur kalimat.
Hal ini dimaksudkan untuk membangun konsep-konsep “kebermaknaan” pada diri anak. Akan lebih baik jika strukturnya kalimat yang disajikan sebagai bahan pembelajan MMP dengan metode ini adalah struktur kalimat yang digali dari pengalaman berbahasa si pembelajar itu sendiri. Untuk itu, sebelum kegiatan belajar mengajar (KBM) MMP yang sesungguh nya dimulai, guru dapat melakukan pra-KBM melalui berbagai cara.
Proses penguraian atau penganalisisan dalam pembelajaran MMP dengan metode SAS meliputi:
a.    Kalimat menjadi kata-kata
b.    Kata menjadi suku-suku kata
c.    Suku kata menjadi huruf-huruf[14]


BAB III
PENUTUP
A.                Simpulan
Menulis adalah proses berkomunikasi secara tidak langsung antara penulis dengan pembacanya dalam menuangkan buah pikiran penulis ke dalam bahasa tulis melalui kalimat yang dirangkai secara utuh dan jelas.
Hakikat menulis  ialah  menurunkan atau  melukiskalambang-lambang  grafik  yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami seseorang sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang  grafik tersebut  yandi dalamnya mengandung pesan penulis.
Tuj penulisan diantaranya: 1. Tujuan penugasan, 2. Tujuan altruistik, 3. Tujuan persuasif, 4. Tujuan informasional, 5. Tujuan pernyataan diri dan 6. Tujuan kreatif penulis.
Jenis menulis diantaranya: 1. Eksposisi, 2. Deskripsi, 3. Narasi, 4. Argumentasi dan 5. Persuasi.
Hambatan menulis ada dua, hambatan di Lingkungan keluarga dan hambatan di Lingkungan sekolah.
Solusi dalam menulis diantaranya: 1. Aktifitas menggunakan papan tulis, 2. Posisi, 3. Kertas, 4. Memegang pensil, 5. Titik-titik, 6. Menjiplak dengan semakin dikurangi, 7. Buku bergaris tiga. 8. Memperhatikan tingkat kesulitan penulisan huruf, 9. Bantuan verbal dan 10. Kata dan  kalimat.
Metode menulis diantaranya: 1. Metode Eja, 2. Metode suku kata dan metode kata, 3. Metode Global, 4. Metode Structural Analisis Sintesis (SAS).
B.                Saran
Sejalan dengan pendahuluan diatas, penulis memberi saran kepada dirinya sendiri ataupun para pembaca agar bisa memahami lebih khusus keterampilan berbahasa Indonesia khususnya dalam hal menulis, yang berguna bagi dirinya sebagai calon seorang pendidik, agar mereka mampu mengajarkan secara maksimal keterampilan menulis tersebut kepada siswa/siswi di jenjang pendidikan Madrasah secara baik berdaya guna dan berhasil guna.


DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Yunus. Pembelajaran Bahasa Berbasis Pendidikan Karakter. Bandung: Refika Aditama, 2012.
Guntur Tarigan, Henry. Menulis Sebagai Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa, 2008.
Ice, Sutari. Dasar-Dasar Kemampuan Menulis. Bandung: FPBS IKIP Bandung, 1997.
Jos Daniel, Parera. Menulis Tertib dan Sistematik. Jakarta: Erlangga, 1993.
Mulyono, Abdurrahman. Pendidikan bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta, 2003.
Sabarti, Akhadiah. et al, Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indnesia. Jakarta: Erlangga, 1991.
Zamzami dan Haryadi, Peningkatan Keterampilan Berbahasa Indonesia. Jakarta: Dirjen Dikti, 1996.
Syarif, Elina. et al., “Pembelajaran Menulis”. 2009. https://arifinmuslim.files.wordpress.com/2011/12/menulis-kkg.pd. diakses 1 April 2019.





[1]Haryadi dan Zamzami, Peningkatan Keterampilan Berbahasa Indonesia, (Jakarta: Dirjen Dikti, 1996, h. 75.
[2]Akhadiah Sabarti, et al, Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indnesia, (Jakarta: Erlangga, 1991), h. 111.
[3]Yunus Abidin, Pembelajaran Bahasa Berbasis Pendidikan Karakter, (Bandung: Refika Aditama, 2012), h. 181.
[4]Henry Guntur Tarigan, Menulis Sebagai Keterampilan Berbahasa, (Bandung: Angkasa, 2008), h. 22.
[5]Sutari Ice, Dasar-Dasar Kemampuan Menulis, (Bandung: FPBS IKIP Bandung, 1997), h. 12.
[6]Henry Guntur Tarigan, op. cit., h. 24-25.
[7]Parera Jos Daniel, Menulis Tertib dan Sistematik, (Jakarta: Erlangga, 1993), cet. ke-2, h. 5.
[8] Ibid., h. 10.
[9]Elina Syarif, et al., “Pembelajaran Menulis”. 2009. https://arifinmuslim.files.wordpress.com/2011/12/menulis-kkg.pdf, h. 3-4. diakses 1 April 2019.
[10]Abdurrahman Mulyono, Pendidikan bagi Anak Berkesulitan Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), h. 227.
[11]Ibid., h. 228.
[12]Ibid, h. 233.
[13]Ibid., h. 230-234.
[14]Ibid., h. 245.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar